Menu

Asyiknya Belanja Dan Melongok Gedung Pencakar Langit 101 Taiwan

Pemandangan kota Taipei dengan gedung pencakar langit 101 kebanggaan bangsa Taiwan yang dibangun pihak swasta. (Foto: TTB).

TAICHUNG, TAIWAN, JalanJalanSeru.com: Morning call berbunyi pukul 4.30 waktu Taiwan. Buka mata sudah berada di Taichung Reve Hotel, bintang empat di kota Taichung berlokasi di Taiwan bagian tengah. Kota Taichung merupakan kota terbesar ketiga di Taiwan setelah Kota Taipei dan Kota Kaohsiung.

Hari ini tiga orang teman akan bertugas sebagai tour leader dan menjadi kordinator bagi 28 orang anggota rombongan Taiwan Moslem Educational Trip 2016. Ada Badri Wahyuni Mochtar atau biasa dipanggil Rini, tour leader senior yang lama tinggal di Amerika, Perancis, Mesir dan negara lain akibat kecintaannya pada profesi.

Teman lainnya yang bertugas adalah Rehulina Jamadi yang bertubuh mungil dan selama lima hari perjalanan kami di Taiwan hanya senyum-senyum saja tidak banyak mengeluarkan suara.

Nah satu lagi yang bertugas adalah Widodo Utomo, owner PT Krida Wisata Nusantara, pengusaha travel agent yang memulai karirnya dari bawah hingga menjadi tour leader dan pengusaha perjalanan. Tingkah polahnya yang lucu dan gaya sombong tiap kali berfoto ria membuat saya antusias menunggu perjalanan di bus saat dia bertugas.

Sholat subuh dan tausiah bersama Kyai Achmad Shofwan Lc MA, pengasuh pesantren terpadu Daarul Muttaqien, Surabaya yang mendampingi rombongan sejak kedatangan mengawali aktivitas kami pagi ini.

Hari ini saya dapat doa spesial lagi untuk bisa menyatukan hati sehingga rombongan bisa kompak selalu. Maklum selain datang dari berbagai kota, hampir semua peserta adalah pengusaha perjalanan yang belum tentu suka turun ke lapangan mengawal klien sendiri.

Doa ini juga bisa dipakai untuk menyatukan staf di kantor agar bisa bekerjasama dengan baik dan saling melengkapi. Alhamdulilah berkat bimbingan Kyai Achmad Sofyan pagi ini saya merasa menjadi orang yang paling beruntung bisa tetap konsisten sholat berjamaah meski sedang berwisata dan setiap hari masuk kamar hotel sudah larut malam.

Seperti sedang menjalani umroh, ketika perjalanan wisata ini kami tetap bisa menjaga ibadah tentunya dapat nilai dan pengalaman plus. Buat saya pribadi ke depannya saya bisa memilih travel agent yang bukan hanya mempromosikan halal restoran plus waktu sholat.

Tapi sejauh mana kita bisa menikmati kebesaran sang pencipta dengan tadabur alam dan memahami ayat-ayat Alquran setiap hari berkat kehadiran seorang Kyai Achmad Sofwan. Selain tentunya belajar bagaimana negara non Muslim berpenduduk 27 juta orang ini begitu serius mempersiapkan diri menjadi negara ke tiga didunia yang Friendly Muslim.

Menuju Taipei

Perjalanan dari Taichung ke Taipei memakan waktu sekitar dua jam, setelah itu obyek wisata yang dikunjungi adalah Taipei Exploration Center atau di sebut Discovery Center of Taipei, 101 building, Watenfu Business Districk dan Watenfu Cloothing Street dan menginap di Palais de Chine Hotel Taipei.

Benar saja seperti halnya komika pada Stand up comedy, Widodo Utomo yang biasa dipanggil Mas Dodo membuat kami cekikikan di dalam bus apalagi kalau dia sudah berpose gaya sombong, berkaca mata hitam, angkat dagu dan diam seperti patung sampai terdengar bunyi kamera ceklak-ceklik.

Ada saja yang dibahasnya mulai dari informasi destinasi wisata yang akan dituju sampai memberikan tips-tips percaya diri di depan rombongan tour yang dipimpin. Maklum mantan tour leader ini punya pengalaman luas dan suka berbagi trik-trik supaya peserta puas dengan perjalanannya.

Berduet dengan Rini yang setiap mengakhiri penjelasannya mengatakan all-right !! tim yang bekerja di hari ke lima ini saya daulat sebagai the best group meskipun masih ada tiga group lagi ke depan yang akan bertugas.

Foto bersama di lantai dasar kantor Balai kota Taipei  ( foto : HAS)
Foto bersama di lantai dasar kantor Balai kota Taipei  ( foto : HAS)

Taipei sebagai ibukota Taiwan terletak di dataran rendah dan dikelilingi oleh pegunungan terutama di bagian utara, timur dan tenggara. Titik tertinggi di dalam wilayah Kota Taipei adalah puncak Gunung Qixing. Taipei juga kaya dengan berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi diantaranya adalah Yangmingshan National Park dan Menara Taipei 101.

Pretty, guide lokal kami langsung mengajak ke Balai Kota begitu bus masuk kota Taipei. Jangan bayangkan balai kota di Jakarta atau di daerah lain di tanah air karena balai kota disini berada di gedung yang menjulang tinggi, banyak spot untuk narsis dan yang penting semua informasi berawal di sini.

Kita dapat mengetahui mengenai budaya serta sejarah singkat tentang Taipei dan tentunya pengetahuan tentang tempat-tempat yang bisa kita datangi selama di Taipei. Lokasi Discovery Center of Taipei ada di Balai Kota Taipei, tepatnya adalah di No.1 Shifu Road, Xinyi district, Taipei City.

Pretty yang cukup cerewet dan galak minta kami bergantian naik ke lantai empat dan langsung menuju ruangan pusat informasi layaknya sebuah bioskop. Di lantai yang lebih mirip dengan museum ini banyak informasi seputar abad 15 ketika orang Portugis menemukan pulau Taiwan dan memberikan nama Formosa pada negara pulau yang bentuknya mirip terong.

Awal mula Taipei merupakan tempat tinggal suku Ketagalan dan hingga awal abad ke 18 suku Han yaitu Hokian dari Fujian dan Hakka dari Guangdong bertani dan memperkuas lahan hingga akhir abad ke 19, lalu membangun pemerintahan kota Taipei sebagai ibukota Taiwan.

Di ruang pusat informasi, peserta diajak untuk menyaksikan film yang berisi infomasi tentang Taiwan, khususnya pariwisata di Taiwan. Bentuk layar dibuat melingkar sementara kursi penonton dibuat berputar sehingga wisatawan dapat secara utuh melihat tiap segmen dari film yang diputar.

Dengan durasi sekitar 30 menit, film pun usai. Kami kembali diantar oleh seorang pemandu wisata volunteer asal Jepang menuju ruang museum. Di museum ini peserta diajak untuk melihat koleksi terkait dengan Taiwan, seperti miniatur bangunan bersejarah di Taiwan, kuil sampai informasi ruang-ruang disebuah keluarga Taiwan.

Informasi mengenai bentuk dan fungsi ruangan di rumah kekuarga Taiwan
Informasi mengenai bentuk dan fungsi ruangan di rumah kekuarga Taiwan

Puas berkeliling dan berfoto di lantai dasar kami kembali ke dalam bus dan menuju gedung 101 yang tahan gempa dan simbol kemakmuran Taiwan. Menjadi gedung tertinggi ke dua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kebanggaan bangsa

Kalau orang Indonesia bangga memiliki Monas, maka bangsa Taiwan bangga memiliki gedung 101. Bangunannya yang menjulang tinggi memang sudah tidak asing lagi bagi wisatawan yang datang berkunjung ke Taiwan.

Saat berada di perbukitan yang mengitari kota Taipei, menara setinggi 506 meter ini sudah terlihat padahal keberadannya di pusat kota tepatnya di Distrik Xinyi, Taipei juga berdekatan dengan Taipei City Hall atau Balai kota tadi.

Gedung pencakar langit ini tercatat sebagai tertinggi pertama di dunia yang ramah lingkungan (The World Tallest Green Building). Untuk naik ke lantai atasnya kita harus mengeluarkan kocek pribadi sebesar 600 NT$. Namun antriannya yang sangat panjang membuat kami batal keatas.

Gedung Taipei 101 ini dulunya adalah Taipei World Financial Center yang memiliki banyak makna. Sebut saja soal angka 101 yang ternyata melambangkan abad baru yang artinya pengharapan lebih baik lagi. Lalu, terdapat pula dekorasi koin China kuno di antara lantai 24 dan lantai 27 sebagai simbol akumulasi kesejahteraan.

Selain itu, setelah lantai 27 ditampilkan delapan segmen yang dalam budaya China artinya rezeki berlimpah. Selanjutnya, di setiap bodi menara ini melambangkan bunga bermekaran. Terdapat pula simbol kepala dragon pada delapan bagian yang mewakili kekuasaan tertinggi. Setiap bagian ini terdapat hiasan Ruyi agar harapan setiap orang itu terkabul.

Sebuah pendulum seberat 800 ton bernama Dumper Babi dipasang di lantai 88. Ini dilakukan untuk menstabilkan menara dari goyangan gempa bumi, angin topan maupun gaya geser dari angin. Pendulum ini terbilang imut yakni kepala bulat dengan dua mata seperti angka 1 dan mulutnya berbentuk 0 yang menandai 101.

Gedung 101 dan para model dadakan. (Foto: HAS)
Gedung 101 dan para model dadakan. (Foto: HAS)

Waktu yang sempit akhirnya dimanfaatkan untuk berfoto ria dan selfie dengan latar belakang Gedung Taipei 101. Beberapa peserta ada yang naik ke lantai 89 gedung. Sementara yang lain melihat-lihat mall yang ada di lantai bawah yang menjual produk branded.

Saat window shopping inilah saya bertemu dengan Tatik, TKI yang sedang jalan-jalan bersama teman-temannya. Bekerja sebagai care taker, mengasuh orangtua hingga 11 tahun, Tatik bukan Desember mendatang akan pulang kampung ke Wonosobo dan tidak kembali lagi.

Dia bersiap jadi pengusaha UKM bisnis ritel baju muslim, buka tempat cucian mobil dan menjual sayuran hasil Wonosobo dengan kemasan yang baik dan pasar ke luar daerah. Saat berpisah Tati mencium kedua pipi saya bak berpisah dengan saudaranya sendiri padahal kami baru kenal satu jam. Saya memandangnya sebagai super woman diantara 235.000 TKI di sini.

Di luar gedung 101 hampir semua peserta mendadak jadi model dan berpose di segala sudut termasuk Kyai Achmad Sofwan yang hobi memotret berlatar belakang gedung pencakar langit 101 itu. Kebetulan di depan gedung banyak spot untuk selfie.

Belanja yuk…

Perjalanan dilanjutkan ke pusat bisnis kota Taipei atau disebut Wutenfu Business District. Sampai akhirnya kami turun di Watenfu Clothing Street, semacam pusat grosir pakaian seperti di Mangga Dua, Jakarta atau jejeran factory outlet (FO) di Bandung.

Tetapi di sini tempatnya lebih mirip pasar Ular, Tanjung Priok, Jakarta bukan di dalam gedung bertingkat. Ada topi, sepatu, jacket dan berbagai produk fashion lainnya sehingga semua peserta memborong belanjaan termasuk guide Pretty.

Inilah salah satu kawasan belanja terbesar di Taipei. Bayangkan kalau FO biasanya barangnya bagus-bagus dan unik dengan harga terjangkau. Kalau di puterin semua FO yang ada seperti memutari stadion Senayan Jakarta kali. Enaknya semua FO ini berada diantara gang-gang yang bersih dan rapih.

Kehilangan teman belanja saya bertemu anggota rombongan lain yaitu Anti dan Afida yang sibuk berfoto ria persis gaya foto model untuk kalender 2017. Afida yang juga photografer untuk Wardah Cosmetic memanfaatkan waktu untuk belanja dan menyalurkan hobinya.

Kunming Islamic Restaurant dan Raohe Night Market menjadi dua aktivitas terakhir sebelum check-in di Palais de Chine Hotel Taipei. Makan malam kali ini disajikan secara prasmanan sehingga kami tidak perlu membuang waktu dan langsung menyantapnya.

Kuliner aktivitas utama di Taohe Night Market sekain berburu oleh-oleh.
Kuliner aktivitas utama di Taohe Night Market sekain berburu oleh-oleh.

Salah satu lokasi pasar malam yang cukup dikenal kalangan turis adalah Raohe Night Market, yang terletak di Distrik Songshan. Pretty mengingatkan untuk mencari suvenir di pasar ini karena itu begitu tiba toko suvenir langsung jadi tujuan.

Pasar malam ini lebih dikenal turis sehingga lebih ramai. Panjangnya sekitar 600 meter ke dalam dan 70% pedagang kuliner terutama berbahan baku sea food . Selain itu, di ujung timur pasar malam terdapat Kuil Ciyou yang menjadi lokasi menarik bagi para wisatawan untuk berfoto.

Mau mencari camilan cumi goreng ukuran besar yang ditusuk dengan bambu ?. Coba juga semangkuk nasi yang ditaburi daging yang diberi bumbu, sehingga rasanya lezat. Saya dan Dewi malah jajan tahu goreng yang baunya cukup menyengat tapi rasanya enak.

Rombongan lainnya bertahan di toko suvenir pertama yang menjual makanan khas dan gantungan kunci, tempelan kulkas dan pernak-pernik lainnya. Edi, Agung, Afida sampai perlu dus besar untuk mengemas oleh-oleh seperti kue mochi, kue nastar nanas dan rumput laut.

Udara Taipei yang cukup panas dan suasana pasar malam yang ramai membuat rasa lelah dan kantuk gampang menyerang. Untunglah akhirnya tiba di Palais de Chine Hotel yang lokasinya jadi satu dengan mall. Kami juga terpaksa menunggu di pinggir jalan karena lobby hotel sempit dan padat dengan tamu check in.

Untunglah sesampai di kamar ternyata hotel bintang lima yang mewah dan ramah bagi tamu Muslim. Meskipun lobby hotelnya mungil bahkan toiletpun tidak ada. Alhamdulilah tidur nyenyak dan perjalanan berikutnya menanti. ( Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply