Menu

Berkunjung ke Bungin, Satu dari Empat Pulau Terpadat Dunia  

SUMBAWA,bisniswisata.co.id: Jangan merindukan pantai di Pulau Bungin.Tidak bakal kesampaian. Karena sekujur pulau dipadati rumah. Nyaris tak ada petak kosong. Bahkan di lingkar pinggir pulau, pondasi dan tiang-penyangga rumah penduduk berhubungan langsung dengan ombak laut. 

Terletak di Laut Bali, persisnya di utara Pulau Sumbawa. Secara administratif Pulau Bungin merupakan satu dari beberapa desa di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bila dilihat dengan mata burung terbang, ini pulau  ibarat tongkang yang berlayar dengan muatan penuh rumah. Rumput dan pucuk pepohonan pun nyaris tak tumbuh di tanah, karena selalu ludes dimakan kambing, yang bahkan hobi ngemil kertas koran atau bungkus rokok. 

Tamasya unik Pulau Bungin yang dicatat UNESCO sebagai Pulau Terpadat di Dunia. Jumlah penduduk dunia kini mencapai 7,7 milyar jiwa. Pertumbuhan ini terus meningkat, sementara penyebarannya tidak merata. 

Tak heran bila UNESCO mencatat banyak tempat yang penduduknya terlalu padat. Bahkan ada 4 pulau dengan penduduk terpadat. Satu diantaranya adalah Pulau Bungin di Indonesia.

Empat pulau terpadat itu adalah Santa Cruz del Islote, pulau buatan yang terletak di San Bernardo Archipelago di Teluk Morrosquillo, Kolombia. Ukurannya cuma seluas lapangan bola, dan kini 500 orang tinggal di atasnya. Jadi, seratus meter persegi untuk tiap 5 orang. Populasi ini terus meningkat tiap tahun.

Pulau kedua adalah Ap Lei Chau yang merupakan bagian distrik Southern di Hongkong. Luasnya cuma 80,5 kilometer persegi. Tahun 2008 tercatat di atasnya tinggal sekitar 1.289.500 orang, dan terus meningkat tahun ke tahun.

Migingo di Kenya tak kalah padat. Terletak di Danau Victoria, pulau ini jadi titik singgung teritorial antara Kenya dan Uganda. Namun sejak 1926, kepemilikan teritorial pulau ini secara konsisten telah ditunjukkan di peta dan dalam bahasa pada dokumen resmi sebagai Kenya. Dengan luas cuma dua ribu meter persegi, lebih seribu orang tercatat tinggal di Pulau Migingo.

Indonesia juga dicatat UNESCO sebagai negara pemilik pulau terpadat di dunia. Awalnya banyak yang menyangka, predikat itu akan jatuh pada Pulau Jawa yang memang padat penduduk. Siapa mengira, julukan terpadat justru ditabalkan kepada Pulau Bungin yang terletak di Laut Bali, persisnya di utara Pulau Sumbawa.

Secara administratif Pulau Bungin merupakan satu dari beberapa desa di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas 0,085 km² atau 8,5 hektar. Pulau Bungin berpenduduk 5.025 jiwa, dengan tingkat kepadatan 59.100 an jiwa/km². Padahal idealnya hanya untuk dihuni antara 800 – 1600 orang penduduk saja.

Dari pesisir timur Pulau Lombok, Pulau Bungin bisa ditempuh dalam waktu sekitar enam sampai delapan jam bermobil termasuk penyeberangan ferry dari Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur, ke Pelabuhan Poto Tano di Kabupaten Sumbawa Barat – ke Kota Sumbawa Besar.

Dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa ini, Pulau Bungin cuma tinggal sekitar 70 km jaraknya. Dari Jakarta, saya ke Pulau Bungin memanfaatkan penerbangan ke Bandara Sultan Muhammad Salahudin di Kabupaten Bima di ujung timur Pulau Sumbawa, lalu bermobil 2 jam ke barat, dan tinggal beberapa malam di Kabupaten Dompu.

Usai ‘urusan’ di Dompu, kembali saya bermobil 6 jam ke barat, dan menyusup ke bagian utara Kabupaten Sumbawa. Di satu simpang di Kecamatan Alas, jalan aspal mulus yang kami susuri dari Kabupaten Bima mendadak hilang, berganti jalan berbatu-batu dan berdebu, bahkan jalan tanah melewati kampung dan kebun, terus ke utara ke ujung sebuah tanjung. 

Pulau Bungin terletak di ujung lengkung tanjung. Dulu, dari ujung tanjung di pesisir utara Pulau Sumbawa ini, orang harus bersampan untuk tiba di Pulau Bungin. Tapi kini Pulau Bungin tak lagi mengapung di laut lepas. 

Sudah ada jalan dari urukan batu karang, pasir dan berlapis aspal tipis, menghubungi daratan utara Pulau Sumbawa dan bagian barat daya Pulau Bungin. Pejalan kaki ataupun pengendara sedan, bisa langsung ke jantung Pulau Bungin. 

 Lepas senja, sedan saya menerobos gapura sederhana bertuliskan Selamat Datang Di Pulau Bungin. Tak seorang pun saya kenal di pulau itu, sedangkan hari mulai gelap dan cahaya listrik mulai menyala, remang-remang. Terdengar azan Magrib. “Kita ke Masjid…,” ucap saya ke rekan driver asal Bima yang menemani perjalanan saya blusukan ke sekujur Pulau Sumbawa.

Putusan tepat karena di masjid, usai sholat, beberapa warga ramah menyalami saya dan bertanya: siapa saya dan hendak jumpa siapa? Saya katakan bahwa saya sengaja mampir bertamu. Agar tepat sasaran, seorang tua yang tadi mengimami sholat, menyarankan kami menemui Kepala Desa. 

Usai mengisi perut di sebuah warung sederhana terdiri dari nasi putih, sayur labu siam, pindang kerapu dan sotong, plus kerupuk udang, saya ke rumah Pak Kepala Desa ( Kades) tapi beliau sedang tidak berada di pulau. 

Seorang Ibu mengarahkan kami menemui Sekretaris Desa (Sekdes), seorang laki-laki muda yang ternyata (siapa mengira) juga gemar menulis sajak. Di rumah panggung miliknya, beralas tikar dan berpenerangan lampu petromaks, kami menginap dan menuai banyak kisah.

Anak Selayar

Umumnya warga Pulau Bungin adalah pendatang suku Bajo, gipsy laut Nusantara yang diperkirakan berasal dari perairan Pulau Sulawesi, dan kini tersebar luas sebagai “suku laut” di berbagai pulau kecil dan pesisir Indonesia, bahkan hingga ke perairan wilayah beberapa negara di ASEAN lainnya. 

Beberapa tetua yang datang dan ikut ngobrol, menyebut Orang Bajo sudah menghuni Pulau Bungin sebelum Gunung Tambora (terletak di perbatasan Kabupaten Bima dan Dompu) meletus di tahun 1816. 

Perintisnya adalah Palema Mayu, seorang dari 6 anak Raja Selayar. Saat itu Pulau Bungin masih berupa gosong atau pulau karang, yang timbul-tenggelam berkait arus pasang-surut air laut. Gosong kosong itu ditumbuhi pohon bungin yang menyembul di antara deret pokon bakau, yang karenanya lantas disebut sebagai Gosong (atau kini) Pulau Bungin.

Saat laut surut dan gosong karang tersembul di permukaan laut, Palema Mayu biasa memanfaatkannya buat tempat menjemur jala. Belakangan paparan gosong ditimbuni bongkah karang mati hingga membentuk dataran yang tingginya di atas permukaan laut, tak lagi tenggelam walau siklus laut sekitar sedang pasang.

Diawali gubuk-gubuk sederhana, sekadar untuk beristirahat atau berteduh saat datang badai, rumah-rumah panggung khas Suku Bajo pun bertumbuhan mengisi pulau.  Gosong karang itu pun tumbuh menjadi pulau berpenghuni.

Versi lain menyebut, Pulau Bungin berawal dari kedatangan 12 orang bersaudara asal Pulau Selayar sebelum Gunung Tambora meletus mengguncang dunia. Delapan orang diantaranya, diingat masyarakat sebagai: Mbo Leso, Mbo Beda Mangintan, Mbo Sakati, Mbo Mamaha, Mbo Gigih, Mbo Punggawa, dan si bungsu Mbo Salina. 

Suatu hari Salina diculik bajak laut asal Johor dan dibawa ke Labuan Bajo di Manggarai, Flores Barat. Ketika hendak diadu dengan sesama tawanan, secara rahasia Mbo Salina bersepakat dengan bakal lawannya, dan menyerang orang yang mengadu mereka. 

Tak diceritakan, bagaimana nasib penculik asal Johor tersebut. Yang pasti, keduanya lantas melarikan diri dan Mbo Salina kembali ke Pulau Bungin. 

Berkat keandalannya bertarung, Mbo Salina kemudian dikenal sebagai pengawal perairan Sumbawa dari serbuan bajak laut. Tapi Belanda justru mencurigai Pulau Bungin sebagai tempat sembunyi bajak laut. 

Mbo Salina dituduh bersekongkol dengan para bajak laut, dan secara sepihak dijatuhi hukuman mati. Tercatat, tahun 1904 Pulau Bungin juga pernah dilanda kebakaran. 

Kambing pemakan kerras dan syasana Pulau Bungin yang tenang. ( foto: Heryus Saputro Samhudi)

 Tradisi Toyah

Sebagai bagian pewaris tradisi Suku Bajo, warga Pulau Bungin dikenal sebagai orang laut yang ulung. Laki-lakinya tak cuma memancing atau menjala, tapi juga menyelam untuk menombak ikan-ikan besar. 

Para wanitanya, mengolah hasil laut tangkapan kaum laki-laki, juga ikut bertani ganggang laut atau beternak kerapu dan ikan konsumsi lainnya dengan sistem jaring apung.

Sejak bayi, orang Bungin sudah dikenalkan pada tradisi, antara lain melalui upacara Toyah. Tujuh orang perempuan bergantian memangku bayi sembari duduk di atas ayunan, menggumamkan ayat-ayat Qur’an dan syair-syair dalam Bahasa Bajo. 

Ayunan diibaratkan ombak yang kelak dihadapi sang bayi saat dewasa, jadi nalayan yang harus selalu berada di laut. Ritual ini juga merupakan upaya memanjatkan doa bagi si bayi, saat kelak melakoni hidup sebagai manusia bahari. 

Sebagaimana umumnya orang Bajo, penduduk Pulau Bungin tak banyak yang memiliki tradisi merantau. Sejauh-jauh terbang bangau, tetap akan pulang ke sarang dimana mereka lahir. Setelah menikah, umumnya mereka lebih memilih tinggal di Bungin. Inilah yang membuat Pulau Bungin kehabisan lahan dan semakin padat.  

Faktanya, waktu ke waktu luas Pulau Bungin bertambah lebar dan panjang. Ini karena tiap keluarga muda, harus memiliki rumah sendiri, terpisah dari rumah keluarga batih masing-masing. Sementara itu…tak ada lagi areal kosong, kecuali halaman masjid ataupun areal yang sengaja dibiarkan kosong untuk area publik. Solusinya? 

Laki-laki muda yang hendak menikah, harus lebih dulu menyiapkan bahan bangunan untuk membangun rumah. Di mana rumah baru akan dibangun? Di garis lingkar luar kontur Pulau Bungin yang padat penghuni, dengan melakukan reklamasi hingga didapat petak area untuk mendirikan tiang-tiang rumah baru tersebut.

Sebagaimana dilakukan nenek-moyang Suku Bajo, areal laut dipatok dan ditimbuni batu karang mati. Setelah didapat areal yang menonjol di atas permukaan laut saat arus pasang, tiang-tiang penyangga rumah lantas ditancapkan di atasnya. 

Setelah itu sebuah rumah baru didirikan. Terserah, mau rumah kayu tembok dengan tiang-tiang besi cor beton. Buntutnya, sekitar 100 buah rumah baru tumbuh tiap tahun di Pulau Bungin. 

Kambing penyuka kertas

Jangan datang ke Pulau Bungin bila niatnya ingin menikmati wisata pantai. Sekali lagi, nggak bakalan ketemu. Karena sekujur pulau dipadati rumah, dan garis pantai pun jadi pondasi rumah-rumah baru.

Ruang terbuka, cuma sekotak kecil di depan masjid, dan bagian kolong Balai Desa yang dibangun tak jauh dari gerbang. Ada beberapa warga buka toko atau warung nasi sederhana. Di situ warga saling bertebur sapa, selain di masjid saat-saat waktu sholat, atau dalam rapat dan pertemuan di rumah seorang warga atau di Balai Desa. 

Tapi ada juga sih tempat asyik buat ngobrol, yakni Floating Cafe atau Kafe Terapung yang dibangun himpunan pemuda setempat, sekitar 200 meter di selatan Pulau Bungin. Di situ tersedia ragam minuman ringan dan hidangan seafood segar, akses TV dan jaringan internet serta WiFi. Sebuah sampan motor siap antar-jemput pengunjung, dari dan kembali lagi ke ‘pantai’ Pulau Bungin. 

Singgah ke Pulau Bungin memang tak untuk tamasya alam, tapi lebih untuk memenuhi rasa ingin tahu: apa dan bagaimana pulau itu bisa tumbuh dan jadi yang terpadat?

Bagaimana pengaruh lingkungan dan adat-istiadat suku Bajo di pulau itu menghadirkan campuran budaya laut dan budaya darat yang khas, dan berpotensi buat dikembangkan sebagai bagian keanekaragaman budaya Indonesia.

Lautnya kaya sumberdaya alam, daratannya penting sebagai tempat tinggal serta wahana interaksi masyarakat. Bagaimana tradisi sistem mata pencaharian, kesenian dan pengobatan dipertahankan? Kearifan tradisional yang bila dikelola dengan baik, bisa jadi kekuatan dan kemajuan masyarakat.

Satu hal yang menarik perhatian saya, di pelataran yang tersisa di Pulau Bungin, tak tampak pohon dan dedaunan. Memang banyak warga yang secara sederhana melakukan penghijauan.  Tapi pohon-pohon hias dalam pot ataupun bekas kemasan makanan-minuman, tak diletakkan di atas tanah, melainkan digantung atau diletakkan jauh di ketinggian dinding rumah.

 Mengapa? “Di sini banyak kambing,” kata Bang Sekdessambil tertawa kecil. Ya, selain ayam dan entog (bebek manila), penduduk banyak memelihara kambing yang bergerak kesana-kemari, mencari apa saja yang bisa dimakan.

“Di sini, nyaris semua limbah dapur rumah tangga habis disantap ternak, khususnya kambing. Tak ada kehijauan yang terjangkau yang tidak dilalap kambing. Bahkan kambing di sini biasa memakan kertas atau kardus.

Tidak percaya? Bang Sekdes meraih koran Ibukota yang belum habis saya baca dan disodorkan untuk camilan kambing yang wara-wiri di jalan di samping bawah rumah panggung tempat tinggalnya. Yuuuk…kita buktikan … berpetualang ke Bungin.

 

Leave a Reply