Menu

Cara Aljazair Memuliakan Para Pejuang Kemerdekaannya

Maqam Echahid , tugu peringatan bagi para martir yang gugur saat berjuang untuk kemerdekaan negaranya. ( Foto-foto: Yudarwita Maharajo)

 ALGER, Alzajair, JalanJalanSeru.com:  Peringatan hari kemerdekaan, termasuk Hari Kemerdekaan RI besok, 17 Agustus 2020  yang ke 75 tahun mengundang kenangan pada para pejuang. Banyaklah kegiatan yang dilakukan untuk menyambut hari besar kita ini. 

Penjual bendera dan pernak-perniknya meramaikan jalanan, umbul-umbul, bendera besar, rangkaian bendera kecil, spanduk dipasang orang, gapura didirikan.  Ketua RT membagikan surat edaran, menghimbau warga untuk menghiasi lingkungan.  Merah putih berkibar… para pahlawan dikenang…Banyak cara  dilakukan dalam memaknai kemerdekaan.

Kenangan tentang pahlawan pun meluncur… membawa saya ke kunjungan ke negara di belahan dunia lain: Aljazair.  Terkenang akan kejutan pertama saat tiba di Alger, ibukota Aljazair –  pemandangan kota yang masih sangat dipengaruhi oleh arsitektur Prancis.

Banyak pula  monumen yang mengabadikan Emir Abdelkader di berbagai kota, baik berupa patung, relief, masjid maupun monumen kenangan. Plaza Abdelkader, dengan patungnya di atas kuda, menjadi salah satu spot wisata utama di Alger

Emir Abdelkader atau Abdelkader El Djezairi, adalah pemuka agama dan militer Aljazair yang memimpin perjuangan melawan invasi kolonial Prancis pada pertengahan abad 19. Tak heran tokoh pejuang kemerdekaan Aljazair ini sosoknya ada dimana-mana.

Bangunan-bangunan dengan banyak lengkungan pada fasadnya banyak terlihat.  Apartemen rendah berwarna putih dengan jendela-jendela dan pintu berwarna biru. 

Maqam Echahid, salah satu landmark yang paling dikenal di kota Alger.

Ada Rue Didouche Mourad yang mirip dengan Rue Charles de Gaule di Paris, dalam bentuk yang lebih sederhana.  Bahkan rumah-rumah ala kolonial dengan taman-taman kota di bagian elite kota sangat mirip dengan suasana kota kecil di Eropa.

Abdelkader lahir di dekat kota Mascara pada 1808.  Sebagaimana para siswa di masa itu, ia mendapatkan pendidikan tradisional di bidang teologi, jurisprudensi dan tata bahasa.  Menurut riwayat ia sudah bisa membaca dan menulis pada usia 5 tahun dan menjadi hafiz pada usia 14 tahun. 

Setahun kemudian dia pindah ke Oran untuk melanjutkan pendidikan. Ia seorang orator ulung dan biasa menghibur teman-temannya dengan puisi dan kritik-kritik relijius.  

Abdelkader berhasil menyatukan berbagai suku di Aljazair dan selama bertahun-tahun memimpin mereka melawan tentara paling canggih di Eropa.  Dia adalah seorang terpelajar dan sufi, tetapi menghormati lawannya yang Kristen.

Tindakannya melindungi umat Kristiani pada peristiwa konflik berdarah di Damaskus tahun 1860 mendapat pujian dan penghargaan dari berbagai belahan dunia. 

Maqam Echahid

Di Alger, saya pun mengunjungi salah satu landmark yang paling dikenal di kota  yaitu Maqam Echahid , tugu peringatan bagi para martir yang gugur saat berjuang untuk kemerdekaan negaranya. Monumen dibangun oleh sebuah perusahaan Kanada.

Monumen dibangun berdasarkan model yang dibuat oleh Fine Art Institute of Algier, pada awal tahun 1980 dan dibuka pada tahun 1982 bertepatan dengan 20 tahun kemerdekaan Aljazair.  Terdiri dari tiga bentuk daun palem besar terbuat dari beton yang menjulang setinggi 92 m ke langit.

         Deretan para pahlawan yang berjasa bagi kemerdekaan Alzajair

Di bawah setiap daun palem berdiri patung tentara yang mewakili setiap tahap dari perjuangan rakyat Aljazair memerdekakan diri dari kolonialisme.    Monumen yang berdiri di atas bukit membentuk simbol dari tiga bidang yang membesarkan Aljazair.

Tiga bidang itu adalah pertanian, budaya dan industri  yang mudah terlihat dari segala penjuru kota. Plaza luas di kakinya menawarkan keteduhan dan pemandangan indah ke seluruh kota.

 Di bawah Maqam Echahid terletak Museum El-Mudjahid.   Museum dibangun dengan misi untuk mengumpulkan, melestarikan dan menampilkan objek dan kenangan dari perjuangan rakyat Aljazair melawan kolonialisme.

Dimulai dengan kisah invasi Perancis tahun 1830, namun berfokus pada perjuangan mulia dari pemberontakan di Setif, Constantine dan Guelma pada tahun 1944 dan perjuangan menjelang Hari Kemerdekaan, Juli 1962. Sebagian besar display berfokus pada perjuangan Emir Abdelkader. 

Walaupun semua petunjuk dibuat dalam bahasa Arab namun pengunjung rasanya mudah “membaca” museum ini.  Museum yang terasa baru, bersih dan komprehensif ini isinya mengagumkan dan betul-betul membuat iri. 

Bayangkan, sebuah museum besar khusus untuk memuliakan pahlawan bangsa!  Ide awal pembuatan museum datang dari Presiden Houari Boumediene dan selesai di masa pemerintahan penggantinya, Presiden Chadli Benjedid. 

Ada ribuan objek perjuangan dipajang dalam ruangan yang luas dan terawat rapi: mulai pedang dari zaman Ottoman, pistol Abdelkader, meriam hingga laporan tentang eksekusi ‘teroris’.  Termasuk di dalamnya ribuan dokumen – arsip, dokumen perang dan barang-barang pribadi.

Hal yang mengagumkan, ada juga berbagai model tas kurir, botol minum serta cangkir kaleng yang dipakai saat peperangan. Benda-benda bersejarah itu dari setiap jenisnya bukan cuma ada satu-dua, tetapi bisa banyak sekali!  Berbagai jenis pedang dan senjata api, berbagai pelindung kepala, bermacam simbol pasukan, dari berbagai masa.

Ada banyak benda-benda pribadi milik Emir Abdelkader termasuk foto dirinya yang dilukis oleh Ange Tissier di tahun 1853. Museum juga dipenuhi oleh foto para pejuang, lukisan-lukisan besar dan mural yang mengggambarkan epik perjuangan –  mengingatkan saya akan lukisan-lukisan propaganda di Cina. 

Lukisan wajah para pejuang besar ditempatkan di bagian awal, seperti “Kelompok 22”.  Dan, tentu saja termasuk informasi tentang tokoh penting dalam perjuangan melawan kolonialisme Prancis: Djamila Bouhired. Nama perempuan nasioinalis yang pemberani ini sering disebut-sebut Presiden Soekarno dalam pidato-pidatonya tentang perlawanan terhadap kolonialisme.

Walaupun museum tutup jam 4 sore, kami sempat mencapai lantai bawah dimana terdapat semacam kubah untuk tempat berdoa, seluruh ruangan yang senyap ini terbuat dari granit berkualitas tinggi berwarna gelap, dengan cahaya redup dan tembok bertuliskan ayat-ayat Al-Quran.  Sunyi dan meditatif.   Ruangan berbau harum ketika kami melewatinya…

Plaza Abd-el-Kadeer dan foto bersama Ameena dengan keluarganya.

Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan di tahun 1962, sekitar 900.000 orang Eropa-Aljazair melarikan diri ke Prancis dalam waktu beberapa bulan saja, khawatir menjadi sasaran balas dendam pasukan FLN (Front Pembebasan Nasional).

Sebagian Muslim Aljazair yang pernah bekerja untuk Prancis dilucuti dan ditinggal karena ada perjanjian antara penguasa Aljazair dan Prancis bahwa mereka tidak akan dihukum. 

Namun para Harki, penduduk asli Aljazair yang bekerja membantu militer Prancis, dipandang sebagai pengkhianat dan banyak yang dibunuh oleh FLN atau oleh kelompok-kelompok tertentu.  Sekitar 90.000 orang berhasil pindah ke Prancis.  Mereka menjadi cikal-bakal dari komunitas Aljazair-Prancis dewasa ini.  

Menjelang akhit tour museum kami bertemu dengan satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan 2 anak gadisnya.  Mulanya mereka bertanya dalam bahasa Inggris, “Chinese?”.  Bukan, kata kami, “Indonesian, Moslem”.  Begitu mendengar kata “Indonesia” wajah mereka langsung sumringah penuh senyum,.

Mereka dengan hangat  menyalami saya bahkan sang ibu merengkuh dan memeluki saya berkali-kali.  “Kami senang orang Indonesia, saya bertemu mereka saat berhaji, sangat tertib” ujar Ameena, si ibu, sambil mengacungkan jempolnya. 

Kedua anaknya, Fatima dan Nabila, ternyata adalah dua mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Pantas bahasa Inggris mereka bagus, karena kebanyakan orang yang kami jumpai hanya berbahasa Prancis dan Arab.  Keluarga ini berasal dari  Tizi Ouzou, propinsi yang terkenal akan wanita-wanita cantiknya.

Saat berpisah, Ameena sibuk merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu, “Untuk Anda,” katanya, “Sebagai kenang-kenangan dari Aljazair.”  Dan kenangan itu terus terbawa sampai ke Indonesia… Au Revoir Ameena, ujar saya mengucapkan salam perpisahan……

 

                                                                                                                        

 

Leave a Reply