Menu

Corona Mengganas, Virtual Travel Menjadi Alternatif 

Virtual travel, alternatif berwisata selama Corona (foto: visaguide)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di zaman Corona seperti saat ini, kita seolah dipaksa mengucapkan salam goodbye untuk melancong. Banyak penerbangan ke seluruh penjuru dunia dihentikan untuk sementara waktu. Kalaupun bisa terbang, penguasa setempat belum tentu mengizinkan turis asing berkeliaran di sana. 

Seperti yang terjadi di Norwegia Maret lalu. Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia, Todung Mulya Lubis, dibuat repot oleh kedatangan 19 turis asal Indonesia. Mereka tiba di Oslo, ibu kota Norwegia, tepat di hari saat negara Skandinavia tersebut memberlakukan kebijakan lockdown sebagai respons terhadap pandemi Covid-19 yang menakutkan. 

Rombongan wisatawan Indonesia yang sedianya akan jalan-jalan ke Lofoten dan Tromso ini pun didatangi petugas keamanan yang menyambangi hotel tempat mereka menginap. Para pelancong ini dipaksa mengkarantina diri di sana selama dua minggu. Sialnya, pemerintah setempat tidak menanggung biaya penginapan dan makan selama karantina. Tak sanggup menanggung biaya, mereka lalu menghubungi Dubes Todung yang mantan pengacara spesialisasi Hak Asasi Manusia (HAM) itu. 

Todung berhasil melobi pemerintah setempat. Para pelancong dibebaskan biaya hotel, tetapi tidak belanja makan dan minum. Saat uang makin menipis, mereka kembali minta Todung agar membantu memulangkan ke Indonesia. Begitulah akhirnya pada 24 Maret lalu, rombongan turis Indonesia ini bisa kembali ke tanah air.

Saat ini, semua orang seperti tak berdaya menghadapi pandemi Covid-19 yang kian masif. Ilmuwan saja masih meneliti perilaku virus yang  vaksin penangkalnya belum berhasil ditemukan. Satu-satunya yang bisa kita lakukan di zaman Corona ini adalah stay home (tetap di rumah) dan wash our hands (mencuci tangan).

Kita semua terjebak di rumah sendiri. Agar tak bosan, Kita perlu kreatif mengisi hari. Dunia Internet belum pernah semenarik dan sevital seperti saat ini. Hampir semua hal yang kita lakukan kini harus tersambung lewat Internet. 

Jalan sepi di Norwegia selama lockdown (foto: independent barents observer),mengunjungi tempat favorit Museum Louvre (foto: perstige online) dan wisata virtual ke Machu Picchu bersama National geographic (foto:youtube)

Banyak keluarga untuk pertama kali menggelar conference calls demi menjaga komunikasi; sejumlah musisi menyelenggarakan konser online bagi para fans yang terkurung di rumah; demikian pula cara orang plesir ke tempat wisata baik dalam negeri maupun manca negara. 

Banyak orang mulai mencobai virtual travel atau berwisata secara virtual. Hanya dengan satu ketukan, kita bisa menjelajah tempat-tempat yang kita impikan untuk dikunjungi, seperti: menikmati indahnya panorama Machu Picchu di Peru, diving di laut dalam atau  mendaki gunung.

Kita juga bisa menikmati taman-taman kota yang indah di New York atau London, mengunjungi museum terbaik dunia, bahkan masuk ke dalam kompleks Piramida tempat raja-raja Mesir kuno dimakamkan. Semua itu mungkin dilakukan berkat teknologi virtual reality.

Perusahaan biro perjalanan berupaya menjangkau para pelancong  yang kini “dipaksa” tinggal di rumah karena virus Covid-19. Meski potensi pasar nampaknya menjanjikan tetapi perlu waktu untuk melihat apakah virtual travel betul-betul mampu menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih di saat banyak orang telah menghabiskan waktu di layar untuk bermacam keperluan seperti rapat atau bekerja jarak jauh.

Di Indonesia, sejak pemerintah menetapkan virus Corona sebagai pandemi, banyak tempat wisata pun ditutup sementara. Apalagi orang juga enggan bepergian dan memilih mengkarantina diri di rumah. Meski belum banyak pilihan, sejumlah museum tetap membuka akses untuk dikunjungi tetapi secara virtual. 

Museum-museum yang menawarkan wisata virtual bagi peselancar dunia maya, termasuk: Museum Nasional Indonesia, Monumen Nasional (Monas), Agung Rai Museum of Artdi Ubud di Bali, Museum Basuki Abdullah, hingga Galeri Nasional.

Ide mewujudkan wisata virtual bukanlah hal baru. Sayangnya dulu, pasar tidak terlalu merespons.  Pada 2014, Facebook membeli Oculus, pionir headset VR (virtual reality) – alat bantu untuk menikmati video 360 derajat – senilai 2 miliar dollar AS. Motifnya jelas: menawarkan alternatif wisata model  baru secara virtual. 

Para pelancong bisa melakukan diving tanpa harus basah; tetap bugar meski mendaki gunung yang tinggi. Jadi nantinya, jika orang hendak jalan-jalan cukup dengan memencet tombol di rumah. Wisata virtual diharapkan dapat menggantikan kebutuhan orang untuk berwisata secara fisik. 

Kala itu, banyak pakar bertanya-tanya: butuh waktu berapa lama sebelum wisata virtual dapat menggantikan kebutuhan orang untuk melancong secara fisik. Terbukti ide ini menghadapi banyak tantangan. Paling banter aplikasi perjalanan VR hanya dirancang untuk sekadar memfasilitasi agar orang dapat ‘mencicipi’ suasana lokasi wisata yang hendak dikunjungi, sebelum memutuskan membeli tiket.

Tapi kini, wisata virtual seolah mendapat momentum. Saat jutaan orang menghabiskan banyak waktu di rumah, mereka membutuhkan suasana baru. Caranya, antara lain dengan menjelajah tempat wisata favorit atau lokasi-lokasi yang belum pernah dan ingin dikunjungi.

Tim Bajarin, konsultan IT berbasis di California, Amerika Serikat, mengatakan dia masih bisa melakukan ritual relaksasinya meski kota tempat tinggalnya memberlakukan lockdow. 

Dalam kondisi normal, saat Tim yang punya hobi menyelam merasa penat dan butuh waktu sejenak meninggalkan kesibukan, dia akan menyelam ke dasar laut sedalam 20 meter; duduk di sana selama 30 menit menyaksikan ikan-ikan lalu lalang di hadapannya.  “Itulah akuarium pribadiku,” katanya seperti dilansir Financial Times.

Kebijakan lockdown dan ancaman virus Covid-19 memaksanya untuk tetap tinggal diri di rumah. Veteran penyelam yang telah melakukan lebih dari 120 penyelaman selama 30 tahun terakhir ini masih bisa menjalani hobinya. Saat ini, dia melakukan penyelaman dari rumah dan yang pasti tidak basah.

Dengan bantuan headset VR Oculus Quest, dia menjelajah dasar laut lewat aplikasi yang dirancang National Geographic dengan menikmati video 360-derajat. “Saya duduk di kursi dan seolah-olah berenang di sisi sinar matahari yang menembus ke dalam lautan – sama seperti yang sebelumnya saya lakukan beberapa kali. Bedanya, kali ini saya tidak basah,” katanya.

Anda pun bisa berwisata dari rumah, menghilangkan penat selama lockdown. Berikut ini sejumlah situs yang menawarkan sensasi wisata virtual terbaik: Le Musee du Louvre, Paris; British Museum, London; Icehotel, Swedish Lapland; Rijksmuseum, Amsterdam; Guggenheim, New York; Grand Canyon, Arizona; Yosemite National Park, California; dan Rocky Mountain National Park, Colorado. 

 

 

 

Leave a Reply