Menu

Destinasi: Kuil Drigung di Tibet Punya Ritual Pemakaman Langit yang Mengerikan

Kuil Drigung di Tibet Punya Ritual Pemakaman Langit yang Mengerikan

Lhasa – Apabila umumnya jenazah dikubur atau dikremasi, maka lain halnya di Kuil Drigung Tibet. Di sana, jenazah dimutilasi dan diberikan ke burung bangkai di gunung.

Mayoritas warga Tibet menganut agama Buddha. Mereka menyambut kematian secara sukacita karena percaya reinkarnasi di alam selanjutnya. Oleh karena itulah mereka memilih cara pemakaman langit atau yang disebut dengan ritual ‘Jhator’.

Jhator berarti ‘sky burial’ atau pemakaman di langit. Dinamakan begitu karena ritual Jhator dilakukan di atas bukit atau gunung. Tak sembarang orang bisa dimakamkan dengan cara begini. Jenazah tak boleh di bawah 18 tahun, wanita hamil, atau mereka yang meninggal karena penyakit atau kecelakaan.

Dilihat detikTravel dari situs resmi Drikung Kagyu Foundation, Kamis (30/3/2017), Drigung Monastery di Tibet merupakan salah satu dari sedikit kuil Buddha di dunia yang masih melakukan ritual pemakaman ‘Jhator’ yang sakral.

Dalam ritual Jhator, jenazah tidak benar-benar dikubur karena tanah di Tibet terlalu keras dan berbatu. Tidak pula dibakar karena kelangkaan bahan bakar dan kayu. Cara mereka adalah dengan memutilasi jenazah, memisahkan daging dan tulang, untuk menjadi makanan Burung Nasar alias burung bangkai.

Burung Nasar dalam bahasa Tibet disebut Dakini, yang berarti penari langit. Warga Tibet yakin, Dakini adalah reinkarnasi dari malaikat. Mereka akan mengambil arwah jenazah dan mengantarnya ke surga, sebuah tempat menunggu reinkarnasi kehidupan selanjutnya.

Bagi orang Tibet, ritual Jhator juga sarat akan nilai religi. Daging manusia diumpankan pada Burung Nasar karena dianggap menyelamatkan hewan-hewan tersebut.

Mereka mencontoh salah satu Buddha yakni Sakyamuni, yang konon pernah melakukan hal ini. Untuk menyelamatkan seekor merpati, Sakyamuni memberi makan elang dengan dagingnya sendiri.

Ritual Jhator dilaksanakan di atas bukit setinggi 4.150 mdpl (Drikung Kagyu Foundation)Ritual Jhator dilaksanakan di atas bukit setinggi 4.150 mdpl (Drikung Kagyu Foundation)

Begini proses ritualnya. Setelah upacara kematian, jenazah akan dibiarkan begitu saja selama 3 hari. Para biksu akan berdoa mengelilingi jenazah tersebut sebelum Jhator dilakukan. Jenazah lalu diposisikan seperti janin, sama seperti ketika dilahirkan.

Jhator biasanya dilakukan sebelum fajar. Jenazah dibawa ke atas bukit kemudian dilepas pakaiannya. Mutilasi pun dimulai, pemotongan pertama dilakukan pada punggungnya. Kapak dan parang digunakan karena daya potongnya cepat dan pasti. Tulang, daging, dan organ dalam dipisahkan.

Tulang kemudian dihancurkan dan dicampur dengan ‘tsampa’ atau tepung barley panggang. Setelah tubuh benar-benar terpotong seluruhnya, adonan tulang itu kemudian disebar ke tanah. Dakini pun mulai datang.

Masyarakat percaya, agar arwah terbawa sepenuhnya ke surga, seluruh bagian tubuh harus dimakan. Setelah adonan tulang, bagian selanjutnya yang jadi persembahan adalah organ dalam, baru kemudian daging.

Bagi orang awam yang melihatnya, tradisi ini tentu terbilang cukup mengerikan. Namun, bagi warga Tibet ritual Jhator menjadi bukti akan pandangan lain terhadap kematian.

Meski banyak pertanyaan yang muncul di benak traveler, melihat prosesi Jhator haram hukumnya bagi mereka yang bukan keluarga. Hanya keluarga mendiang yang boleh hadir di ritual tersebut. Memotret juga haram hukumnya, masyarakat percaya bisa menimbulkan efek negatif bagi arwah mendiang.

Traveler memang tidak diperbolehkan untuk melihat ritual Jhator secara langsung. Namun traveler bisa melihat lokasi ritual Jhator di bukit setinggi 4.150 Mdpl dekat Kuil Drigung. Mungkin ada traveler anti mainstream yang ingin melihatnya? (rdy/msl)

Leave a Reply