Menu

Destinasi: Sisi Lain Red Light District Amsterdam di Museum Prostitusi

Sisi Lain Red Light District Amsterdam di Museum Prostitusi

Amsterdam – Berkunjung ke Red Light District Amsterdam, traveler bisa menemukan Museum Prostitusi. Di dalamnya, traveler bisa mengungkap sisi lain Red Light District.

Tentu bukan rahasia, kalau Red Light District Amsterdam dipenuhi oleh berbagai rumah bordil hingga berbagai ‘Coffee Shop’ yang menjual mariyuana. Tak sedikit wisatawan dewasa yang datang untuk mencari hiburan.

Namun dibalik segala yang terlihat, Red Light District Amsterdam menyimpan rahasia yang jarang diketahui wisatawan. Rahasia itu pun bisa traveler ketahui jika berkunjung ke Museum Prostitusi Red Light Secrets yang berada di sana.

Ketika berkunjung ke Belanda beberapa waktu lalu, detikTravel pun sempat masuk ke dalam Museum Prostitusi Red Light Secrets di Amsterdam. Sejumlah fakta terkait prostitusi dan Red Light District dijelaskan secara gamblang.

Suasana di dalam museum (Randy/detikTravel)Suasana di dalam museum (Randy/detikTravel)

Di awal, traveler harus membayar 8,50 Euro atau sekitar Rp 120 ribu/pax. Setelah itu, traveler juga bisa menambah 1,50 Euro (Rp 21 ribu) untuk menyewa alat audio jika ingin.

Setelah itu, traveler bisa menjelajahi setiap ruang dan lantai yang didekor sedemikian rupa. Tidak mengapa, dahulunya museum tersebut merupakan bekas rumah bordil.

Masuk ke setiap ruang, traveler akan disajikan berbagai fakta tentang dunia prostitusi di Amsterdam. Diketahui, kalau ada 900 PSK yang bekerja di Red Light District Amsterdam setiap harinya.

Traveler bisa merasakan pengalaman jadi PSK di balik kaca (Randy/detikTravel)Traveler bisa merasakan pengalaman jadi PSK di balik kaca (Randy/detikTravel)

Namun yang lebih mengejutkan, setiap PSK diharuskan membayar biaya sewa lapak atau ‘jendela’ seharga 150 Euro (Rp 2,1 juta) untuk durasi delapan jam. Ternyata. bekerja jadi prostitusi bukan perkara mudah.

Selain itu, traveler juga bisa melihat contoh kamar hingga berbagai peralatan yang digunakan oleh para PSK. Yang lebih mengejutkan, traveler juga bisa melihat area khusus untuk mengenang para PSK yang telah tiada.

Altar khusus untuk PSK yang dibunuh pada tahun 1957 (Randy/detikTravel)Altar khusus untuk PSK yang dibunuh pada tahun 1957 (Randy/detikTravel)

Ternyata saat museum tersebut masih menjadi rumah bordil, pernah ada PSK yang mati dibunuh pada tahun 1957. Hal tersebut juga membuktikan, bahwa profesi PSK juga sangat rawan dan bisa membahayakan.

Di akhir bagian museum, traveler bisa melihat sebuah tempat pengakuan dosa, lengkap dengan tembok pengakuan. Jika ingin, siapa pun bisa menuliskan pengakuan tentang pengalaman pribadi masing-masing ketika bertandang ke Red Light District.

Jika ingin melengkapi pengalaman berkunjung ke Museum Prostitusi, traveler bisa membeli gantungan kunci hingga berbagai cinderamata dan permen. Kalau mau berkunjung, harus cukup umur ya!

Berbagai suvenir bertema dewasa (Randy/detikTravel)Berbagai suvenir bertema dewasa (Randy/detikTravel)

(bnl/aff)

Leave a Reply