Menu

Destinasi: Tradisi Unik di Desa Sembalun: Perempuan Gak Bisa Nenun Itu Gak Laku!

Tradisi Unik di Desa Sembalun: Perempuan Gak Bisa Nenun Itu Gak Laku!

Jakarta – Desa Sembalum Lawang di Lombok dikenal sebagai penghasil kain tenun. Tradisinya, perempuan desa itu dinilai dari keterampilan membuat kain.

Kurniati (68) merupakan salah satu pengrajin tertua di lembah gunung Rinjani itu menceritakan asal-usul kain tenun. Ia menenun untuk menjaga tradisi dan menambah penghasilan.

Kenapa bagi anak perempuan harus bisa menenun? Karena pada masa dulu, perempuan penenunlah yang pantas untuk dinikahi.

“Sudah menenun sejak kelas 2 SD. Karena disuruh orang tua. Kalau gak bisa nenun gak laku. Soalnya kan kalau dulu pakai sarung selendang harus dibikin sendiri,” kata Kurniati (68) ketika ditemui detikTravel di rumahnya beberapa waktu lalu.

Sebagai penenun harus mempunyai sifat yang sangat sabar. Karena dalam pembuatan pakaian komplit yang terdiri dari sarung dan selendang atau kerudung memerlukan waktu satu bulan. Hmmm, cukup lama bukan?

Kain tenun motif panah asmara (dok Disbudpar NTB)Kain tenun motif panah asmara (dok Disbudpar NTB)

Menurut dia, karena mengikuti keinginan pembeli, kain tenun yang dibuat dan dijual adalah kain semacam selendang dan sarung. Berbeda pula saat pada zaman dahulu, pemakaian benang tenun pun banyak dibeli di toko.

“Kalau dulu kan jenis benangnya dari kapas dan buat sendiri. Kalau sekarang sudah jarang. Banyak yang memakai benang hasil pabrik,” jelas dia.

Pembuatan benang secara tradisional dijelaskan Kurniati berawal dari di-ulak atau ‘ngulak’, atau dipintal dengan alat pembuat benang bernama ‘gantian’.

Setelah itu benang akan di ‘Rane’, yaitu benang di tata memanjang. Selanjutnya benang dimasukkan ke sisir benang yang berguna untuk merapikan tenunan. Proses selanjutnya adalah menenun dengan alat bernama ‘Jajak’ hingga terbuat kain jadi.

Mengetahui proses pembuatan kain tenun khas Lombok di atas, tentu traveler bisa belajar menghargai jerih payah dan ketekunan para wanita Lombok. Soalnya bukan perkara mudah. Mari kita apresiasi karya anak bangsa! (rdy/rdy)

Leave a Reply