Menu

Melongok Kawasan Wisata Bahari Dapeng Bay Sekaligus Wisata Spiritual di Koahsiung

Dapeng Bay National Scenic Area, destinasi wisata andalan Taiwan untuk olahraga air, budidaya kerang dan wisata sejarah.

PINGTUNG, TAIWAN, JalanJalanSeru.com: Setiap hari berpindah kota membuat tubuh mulai terasa penat. Untunglah olah nafas dan melakukan senam sambil duduk dalam bus bisa dilakukan dengan kompak bersama anggota rombongan dengan gembira.

Tak terasa sudah hari ke empat keberadaan kami di Taiwan. Seperti biasa ritual pagi sholat subuh bersama. Kyai Achmad Shofwan Lc MA, pengasuh pesantren terpadu Daarul Muttaqien, Surabaya yang mendampingi rombongan Taiwan Moslem Educational Trip 2016 ini memimpin sholat subuh dan sekaligus tausiah.

Selain mendapatkan doa-doa khusus juga tausiah yang berhubungan dengan usaha yang dimiliki tiap anggota rombongan. Kyai yang memiliki tujuh bidang usaha termasuk tour umroh dan haji ini selalu mengingatkan untuk memiliki fondasi hubungan yang kuat dengan Allah dan keluarga termasuk anggota keluarga seperti pembantu, supir dan lainnya.

Teman sekamar, Dewi Nurani yang pemilik travel agent dan punya bisnis ritel pagi ini sibuk melihat jadwal program yang ada. Kadang mulutnya komat kamit mengundang tawa berusaha mempersiapkan diri sebagai tour leader. Hari ini yang bertugas memang Dewi Nurani dan Agung dari Jakarta serta Andriyani, pengusaha travel agent dari Solo.

Dalam edutrip Moslem Taiwan 2016 ini biarpun peserta adalah seorang pemilik usaha namun semua bergilir menjadi kordinator atau tour leader dan harus siap dengan plan A atau plan B agar perjalanan wisata lancar. Mereka yang biasa menjual paket haji dan umroh, harus siap mengenas paket wisata halal untuk Muslim untuk berwisata ke penjuru dunia seperti Taiwan ini.

Berpindah dari satu kota ke kota lainnya membuat saya banyak memperhatikan tanda jalan yang menunjukkan kami sekarang berada di wilayah Pingtung, suatu daerah di Tenggara Taiwan yang dikenal sebagai daerah pertanian dan pariwisata.

Pingtung adalah tempat di mana Taman Nasional Kenting berada . Sampai abad ketujuh belas daerah ini adalah tempat pengasingan bagi penjahat Cina dan tempat mendarat pelaut internasional. Pada tahun 1664 suku Han, Kanton dan Hakka tiba dari China daratan dan hidup bertani.

Kota ini juga tempat terjadinya gempa bumi 7,1 SR pada 26 Desember 2006. Dengan luas tanah lebih dari 2.775 km ², Pingtung jadi kota terbesar kedua di Tenggara setelah Kota Kaohsiung.

Jadwal hari ini tidak ada kunjungan ke Taman Nasional Kenting, tapi langsung menuju ke Dapeng Bay National Scenic Area, daerah kawasan wisata bahari. Perjalanan panjang akan mampir pula ke Kaohsiung, kota terbesar kedua di Taiwan berpenduduk sekitar satu juta orang.

Hal yang menjadi daya tarik adalah malam harinya ada acara belanja ke Fengjia Night Market. Setelah itu menginap di Hotel Reve Taichung, sebuah hotel bintang empat. Pretty, guide lokal kami bercerita bahwa obyek utama yang bisa dikunjungi hanya ke Dapeng Bay selama 30 menit karena keterbatasan waktu.

Dapeng Bay

Dapeng Bay adalah teluk terbesar yang terletak di garis pantai bagian barat daya Taiwan tempat untuk menikmati matahari tenggelam, akrivitas olahraga air, budidaya kerang, tempat kuliner seafood dan banyak lagi.

Tempat ini juga menjadi tempat tumbuhnya pohon bakau yang berguna untuk melindungi pantai dari terpaan ombak dan juga menjadi habitat bagi banyak binatang. Oleh sebab itu, kata Pretty, Dapeng Bay juga tempat untuk mengamati burung ( bird watching ).

Tempat wisata Dapeng Bay resmi dibuka pada tahun 2003. Dapeng Bay dulunya dikenal dengan banyaknya budidaya kerang dan ikan. Akan tetapi, tempat pembudidayan tersebut sekarang sudah banyak diubah menjadi fasilitas olahraga air.

Ketika tiba di halaman parkir Dapeng Bay, kami bertemu dengan 170 peserta Famtrip Taiwan dari travel agent umum dan teman-teman media dari Indonesia. Karena rombongan kami travel yang melayani wisata halal bagi Muslim Traveller maka setiap hari rute kunjungannya berbeda.

Kami langsung dikumpulkan di gedung teaternya yang cukup besar untuk menonton presentasi promosi wisata bahwa selain rekreasi air dan aktivitas di darat kita juga bisa mengeksplore wisata sejarah.

Ruang video Dapeng Bay
Ruang video Dapeng Bay

Di Dapeng Bay misalnya,banyak terdapat berbagai macam spesies burung. Ada sekitar 95 spesies burung yang ditemukan termasuk jenis burung yang bermigrasi. Itulah sebabnya buat pengintip burung tulen, Dapeng Bay adalah tempatnya.

Salah satu tempat wisata yang menarik lainnya tersebut berupa bekas kamp militer Jepang yang ditemukan pada tahun 1937. Jepang menjajah Taiwan selama 50 tahun. Tapi semenjak tahun 2003, kamp militer tersebut beralih fungsi menjadi tempat wisata.

Jika berkunjung ke sana, turis masih dapat melihat bangunan barak, terowongan, menara kontrol, pos jaga dan fasilitas-fasilitas militer lainnya masih terjaga dengan baik. Bahkan di beberapa bagian gedung masih ditemukan bekas-bekas tembakan dan ledakan dari masa perang Dunia ke II.

Tradisi bakar tongkang

Video mengenai kawasan wisata ini membuat kami cukup paham bahwa turis juga dapat apat mengunjungi Qingzhou Rest Area. Selain itu, seperti di tanah air yang penuh dengan kegiatan festival di suatu daerah. Di sini juga ada atraksi upacara pembakaran perahu di Kuil Donglong di Donggang.

Kuil Donglong ini terkenal akan sejarahnya yang panjang dan upacara pembakaran perahu ini diadakan setiap tiga tahun sekali. Sebelumnya, perahu tongkang diarak mengelilingi kota sebagai simbolisasi wadah untuk mengumpulkan penyakit-penyakit dan nasib buruk di setiap rumah dan sudut kota.

Setibanya di pelabuhan, lambung kapal diisi dengan sesaji sebagai persembahan pada para dewa. Sekitar tengah malam, barulah puncak acara dimulai. Perahu didorong ke arah pantai dan akhirnya dibakar.

Selain Donggang, area Dapeng Bay juga meliputi wilayah Pulau Xiao Liuchiu. Pulau Xiao Liuchiu banyak dikenal orang sebagai surga di tengah lautan. Pulau Xiao Liuchiu adalah satu-satunya pulau batu karang diantara 14 pulau luar Taiwan yang lain. Ukurannya yang kecil memungkinkan pengunjung untuk mengitarinya hanya dengan 30 menit berkendara.

Sayang semua yang saya sebut diatas tidak kami kunjungi langsung, hanya lewat tayangan video. Sebenarnya memang perjalanan hari ini kurang mengasyikkan karena sudah jauh-jauh datang dan menempuh perjalanan panjang sekitar 4 jam tapi hanya menonton tayangan film/ video promosi wisata Dapeng Bay bukan mengunjungi langsung spot-spot wisata yang ada.

Ketika melanjutkan perjalanan mengelilingi teluk dan melewati tempat budidaya tiram, Pretty menunjukkan dari jauh jembatan Pan Bay yang bisa diangkat tiap jam 4 sore agar kapal-kapal bisa melewatinya.

Jembatan yang menjadi icon di kawasan ini digadang-gadang Pretty sebagai jembatan indah apalagi di malam hari. Ucapannya membuat saya teringat jembatan Ampera di kota Palembang yang sejak puluhan tahun lalu juga sudah bisa buka-tutup untuk lalu lintas kapal.img-20161114-wa0016

Kuliner Indonesia

Untunglah perjalanan 90 km berikutnya adalah singgah di Mesjid Koahsiung untuk makan siang dan sholat dzuhur sehingga jadi semangat lagi mengikuti rute perjalanan. Tepat di sebelah kiri Mesjid Kaohsiung ada restoran Indonesia yang menyediakan makanan dan minuman khas Indonesia bernama “Restoran Indonesia Food” yang terletak di Nomor 13 JianJiun Road, Distrik Ling Ya.

Pemiliknya adalah seorang muslimah warga Negara Indonesia bernama Aling. Dia memasang nomor handphone besar-besar di papan restoran itu sehingga saat kita melintas cepat dengan kendaraanpun nomor itu tertangkap mata.

Dengan jumlah rombongan yang mencapai 28 orang,  resto yang suasana dan fasilitasnya sama dengan warung makan ini langsung penuh. Apalagi di pojok-pojok ruangan banyak rak-rak besi berisi makanan mulai dari mie instant, makanan camilan hingga biskuit – biskuit dari Indonesia.

Di meja langsung terhidang telor dadar, capcai , sambel, tempe, ayam teriyaki, udang goreng, membuat semua peserta lahap menyantap menu yang ada plus nasi sudah tersedia.

Menu yang ditawarkan pun sangat bervariasi dengan harga yang tak terlalu mahal dan semuanya adalah khas Indonesia. Untuk makanan lain yang dijual ada kare sapi, rendang, ayam goreng plus lalapan dan sambal, gulai kambing serta nasi goreng.

20161115_060722

Mesjid dan keberadaan restoran yang berdampingan di Koahsiung.

Kangen empek-empek ikan, soto ayam, bakmi bakso, sate kambing, sate ayam dan kuliner nusantara lainnya bisa dicari di sini dengan harga mulai NT$ 70- NT$150/ porsi. Nilai tukar nya satu dollar new Taiwan sekitar Rp 430.

Warga Indonesia yang kebetulan berada di Kaohsiung dan ingin mengunjungi restoran itu tampaknya cukup mudah, karena lokasinya berada di pusat kota.

Restoran itu buka setiap hari kerja dan hari libur termasuk Lebaran tak pernah libur. Aling kerap kewalahan karena restorannya tak pernah sepi pengunjung. Kebanyakan konsumen yang datang ke restoran itu memang warga negara Indonesia yang bekerja atau sekadar singgah di Kaohsiung.

Tapi banyak juga warga asli Taiwan atau warga negara asing yang datang untuk menikmati masakan khas Indonesia.Begitu juga Muslim dari negara lain terutama usai sholat Jumat.

Kegiatan ibadah paling ramai di masjid tersebut memang saat sholat Jumat, di mana pada saat itu ada sekitar 200-300 warga muslim dari berbagai negara datang, tak hanya pria yang Jumatan tapi juga wanita juga ibadah sholat Jumat.

Masyarakat muslim yang datang umumnya warga muslim pendatang atau pekerja asing yang tinggal di Kaohsiung, seperti dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, India, serta negara-negara Timur Tengah.

Keberadaan restoran Indonesia di Kaohsiung tersebut sebenarnya secara tak langsung ikut mempromosikan wisata kuliner Nusantara yang kaya akan keanekaragaman makanan dan minuman kepada warga setempat maupun warga asing lainnya.

Pose bersama di luar mesjid Koahsiung
Pose bersama di luar mesjid Koahsiung

Mesjid Koahsiung

Usai makan barulah kami bergegas ke mesjid yang dibangun tahun 1949. Begitu masuk ada 25 bagan ruangan dalam aksara China dan penjelasan peruntukannya dari mesjid tiga lantai ini telah diperluas mengingat jumlah jamaah pada 1990 menjadi 2.657 meter.

Penyerahan perlengkapan sholat kepada pengurus Mesjid Koahshiung
Penyerahan perlengkapan sholat kepada pengurus Mesjid Koahshiung

Lantai pertama adalah asrama laki-laki dan perempuan, ruang sholat perempuan dan pusat kegiatan perempuan. Lantai kedua adalah ruang shalat utama, pusat studi bahasa Arab dan ruang displai budaya Islam.

Lantai ketiga adalah ruang tamu, pusat kegiatan pemuda, kantor dan dapur. Masjid ini juga dilengkapi kantor imam, kantor administrasi, perpustakaan dan ruang wudhu.

Usai sholat Priyadi Abadi, Ketua Indonesia Islamic Travel Communication Forum ( ITTCF) menyerahkan perangkat sholat pada pengurus mesjid sebelum kami melanjutkan perjalanan ke mal yang dikenal sebagai Park Lane by CMP

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Kota Kaohsiung, Taiwan, memang tak terlalu populer dan jarang terdengar dibanding Taipei. Kota ini sebuah setingkat provinsi di Taiwan, yang sekarang adalah hasil penggabungan daripada Kota Kaohsiung dan Kabupaten Kaohsiung sejak tanggal 25 Desember 2010.

Kota ini mempunyai bandara terbesar kedua di Taiwan, yaitu Bandara Internasional Kaohsiung dan pelabuhan laut terbesar di Taiwan yaitu Pelabuhan Kaohsiung.

Justru karena memiliki pelabuhan laut terbesar di Taiwan itulah, banyak anak buah kapal (ABK) Indonesia yang berminggu-minggu hingga berbulan-bulan berada di kota itu untuk tinggal sementara saat kapalnya berlabuh.

Dari Mesjid Kaohsiung perjalanan dilanjutkan ke Park Lane By CMP, sebuah toko buku besar yang juga menjual berbagai produk layaknya mal di Jakarta. Baju-baju karya desainer menonjol di samping bisa wisata kuliner di lantai dasar. Sayang sampai lantai 4, yang saya temui antrian toiletnya panjang berarti fasilitas itu kurang banyak ketimbang jumlah pengunjung.

Puas berkeliling barulah guide lokal mengajak kami check-in di Maison De Chine Hotel, sebuah jaringan hotel di Taiwan yang juga memiliki sejumlah properti di Itali.

Pihak hotel secara serius meminta masukan atas sajian masakan halal yang disajikan dan tentu saja berharap pihak travel agent Muslim mengirim tamu-tamunya untuk menginap di hotel mereka.

Acara bebas yang ditunggu- tunggu akhirnya tiba karena kami bisa mengunjungi Fengjia Night Market tak jauh dari hotel. Pasar kaget di malam hari yang sudah berusia 40 tahun itu dipadati 400 pedagang yang menjual tas, baju, sepatu dan aksesoris. Suvenir dari Taiwan yang saya inginkan malah tidak ada yang jual.

Meski hanya menikmati free time dua jam namun rombongan kami dapat memanfaatkan waktu belanja dengan efektif dan efisien karena begitu kembali ke hotel Priyadi Abadi sudah menunggu di lobby hotel untuk briefing dan evaluasi kerja tiga orang kordinator hari itu. Jadilah waktu sepanjang subuh hingga tengah malam beraktivitas membuat tidur menjadi nyenyak. ( Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply