Menu

Mengunjungi Pusat Budaya, Sejarah Dan Pusat Belanja Di Taipei

TAIPEI, Taiwan, JalanJalanSeru.com: Mengawali pagi dengan sholat subuh berjamaah di ruangan gym Palais de Chine Hotel membuat saya salut dengan manajemen hotel yang mampu mengakomodasi kebutuhan para tamunya.

Salah satu jaringan L’hotel de Chine Group ( LDC) ini juga menyediakan ruangan khusus di salah satu Meeting Room saat kami menginap di Chiayi Maison de Chine untuk memfasilitasi sholat berjamaah dan menjadi hotel yang Friendly Muslim.

Kyai Achmad Shofwan Lc MA, pengasuh pesantren terpadu Daarul Muttaqien, Surabaya, yang mendampingi rombongan Taiwan Moslem Educational Trip 2016 ,  seperti biasa memimpin sholat subuh berjamaah dan tausiah

Tak lebih dari setengah jam, taushiyah agamanya selalu praktis, berisi pesan-pesan dalam hal kebenaran dan kesabaran yang berhubungan erat dengan dunia travel yang juga digelutinya.

Di hari ke enam ini Afida Sukmaningdari, Ismiyati Yose Iskandar dan Seno Agus Susanto, para pendatang baru di bisnis travel yang bertugas sebagai tour leader dan menjadi kordinator dan mediator untuk 28 anggota rombongannya hingga check in di The Grand Hotel dan briefing malam untuk mengevaluasi bersama hasil praktek lapangan hari itu.

Dari hotel kami langsung menuju pabrik kue nanas semacam nastar yang ukurannya besar dan di kemas satu-saru dalam plastik dan tiap kotak berisi 5-10 buah. Didepan pabrik sudah banyak boneka-boneka ukuran setengah meter sehingga saya langsung berpose dan kirim foto ke cucu, Sarah Anjani di Jakarta.

Selain boneka di depan toko sekaligus pabrik yang sudah eyes catching, lift untuk naik ke lantai atas tempat produksi juga dihias. Jadi sisi luar lift dibalut warna kuning dengan lekukan mirip kulit nanas. Duh patut di tiru nih supaya kunjungan ke pabrik tidak membosankan.

Tiba di atas suasananya gelap dan kami di suruh merapat ke dinding. Seperti dinding kaca dengan warna-warni lampu inget jaman pesta disko tahun 1975 an. Suara musik dan instruksi agar tangan menggapai -gapai permainan cahaya di depan mata membuat kami seperti berolahraga.

Selesai dengan satu kejutan, muncul kejutan lain karena untuk mencapai ruang proses produksi kami melewati satu lorong panjang dan guide setempat langsung minta kami melihat ke dinding kiri ada tayangan layar lebar suasana pegunungan di Taiwan tempat perkebunan nanas berada.

Wow !! presentasi yang keren karena jarak 30 cm dari layar justru membawa kita merasa berada di perkebunan itu. Tayangan hanya 5 menit itu membuat kami paham dengan hulu – hilir sebuah kotak suvenir berisi nastar ala Taiwan.

20161114_091227

Pabrik dan toko kue nanas, oleh-oleh khas Taiwan.

Tiba di ruang produksi, dari balik kaca hanya ada satu pria yang mondar- mandir di dalamnya. Selebihnya mesin berisi kue-kue yang berjalan seperti barisan tentara yang ber saf-saf menuju satu titik tujuan untuk siap di kemas.

Ruang pamer ini tidak seberapa luas jadi untuk rombongan 28 orang saja sudah sempit. Di Ruangan itu masih juga diselipkan boneka mascot memegang nanas.

Turun ke lantai dasar lewat tangga, acara icip-icip oleh-oleh yang ingin dibeli berlanjut. Ada juga sisi ruangan yang menjual suvenir lain seperti gantungan kunci dan tempelan kulkas. Tapi semua otomatis berburu ke bagian kue nastar dan teh-teh produksi Taiwan.

Usai icip-icip potongan kecil kue yang ada, Priyadi Abadi sang komandan mengumumkan istrinya, Emildaira jauh lebih pandai membuat kue nastar ketimbang buatan pabrik di Taiwan ini. Dia meyakinkan betapa kue buatan istrinya bisa mendominasi kue Lebaran karena renyah dan empuk.

Alhamdulilah ingat kue buatan istri meski dalam perjalanan ini waktu dan pikiran terfokus pada beragam informasi yang harus kita ambil bahkan kadang harus dicatat. Saya langsung membayangkan kue buatan Emildaira lalu mengambil cup mungil untuk meneguk teh melancarkan kunyahan kue di mulut.

Meski semalam sudah membeli oleh-oleh tetap saja banyak tas masuk lagi ke dalam bus untuk oleh-oleh keluarga maupun staf di kantor. Dianti, misalnya, juga membeli buat kakandanya tercinta.

Bus bergerak menuju Taipei Grand Mosque atau Mesjid Agung Taipei. Jam baru menunjukkan pukul 11.15, belum waktunya sholat dhuhur. Untunglah kedatangan kami di sambut oleh Amien, mahasiswa Indonesia yang kuliah ilmu perawat di Taiwan National University, Taipei.

Dia belum sebulan magang jadi pengurus mesjid. Amien yang asal Purwokerto itu mendampingi Hamid, pria Taiwan yang mualaf setelah menjadi mahasiswa jurusan bahasa Arab. Mereka berdua mengurus mesjid tiga lantai dengan kapasitas sholat Jumat untuk 1000 orang.

Di mesjid ini pula berkantor Chinese Moslem Association semacam MUI di Indonesia yang mengeluarkan sertifikasi halal dan mengedukasi industri hotel, restoran dan lainnya untuk mendapatkan setirfikasi dapur halal dan memberikan pelayananan Friendly Moslem.

Kami lalu duduk setengah lingkaran dalam mesjid mendengarkan penjelasan Hamid bahwa di hari Jumat dan hari besar lainnya memang umat Islam dari Indonesia yang banyak sholat jumat dan memenuhi kegiatan Ramadhan. Umat Islam di Taiwan berkisar 150.000 orang tapi lebih separoh adalah TKI dan warga Taiwan asli hanya sekitar 50.000 orang.

Walaupun merupakan agama minoritas, tidak lantas ditelantarkan oleh negara. Sebagai buktinya adalah ditetapkannya Taipei Grand Mosque sebagai salah satu cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya. Populasi umat Islam di Taiwan tergolong sangat kecil, hanya 0,3% saja dari total penduduk Taiwan yang mencapai 27 juta orang.

picsart_11-17-10-18-26

Suasana Mesjid Agung Taipei dan Salahuding Ma ( kiri), Sekjen Chinese Muslim Association bersama Priyadi Abadi. (Foto-foto: HAS).

Priyadi Abadi didampingi Kyai Achmad Shofwan Lc MA menyerahkan perangkat sholat sumbangan dari para anggota IITCF sebagai upaya menyediakan sarana ibadah bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke mesjid besar ini.

Landmark Taipei

Melongok Chiang Kai-shek Memorial Hall jadi tujuan berikutnya. Melongok artinya tidak sampai masuk ke dalam hall karena keterbatasan waktu jadilah waktu yang ada untuk mendengarkan penjelasan Pretty, guide lokal yang mendampingi selama tujuh hari di Taiwan dan sisanya untuk berfoto ria.

Berlokasi di pusat kota Taipei, tempat ini dibangun untuk mengenang mantan Presiden China, Chiang Kai-sheK dan menjadi landmark kota Taipei yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Begitu turun dari bus mendadak sontak semua peserta jadi foto model termasuk para pria yang punya andalan gaya sombong.

Monumen ini menempati tanah seluas 250.000 m2 dan dikelilingi oleh taman yang sangat luas. Ide untuk membangun monumen ini dimulai setelah presiden Chiang Kai-shek wafat pada tahun 1975. Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 1976, bertepatan dengan ulang tahun presiden ke-90.

Monumen Chiang Kai-shek Memorial Hall resmi dibuka bertepatan dengan peringatan 5 tahun meninggalnya presiden Chiang pada bulan April tahun 1980.

Ada dua gerbang yang dapat kita lalui untuk dapat masuk ke Chiang Kai-shek Memorial Hall. Kedua gerbang berada disisi utara (Xinyi Road) dan selatan (Ai Guo East Road).

Bangunan Chiang Kai-shek Memorial Hall dibangun sarat dengan filosofi dan nilai-nilai kebudayaan Cina. Hal itu dapat dilihat dari arsitektur bangunan yang didesain secara matang. Monumen Memorial Hall dibangun menggunakan batu marmer putih. Atapnya berbentuk segi delapan dan diberi warna biru.

Delapan sisi pada atap melambangkan angka 8 yang dalam filosofi Cina merepresentasikan kelimpahan rejeki dan nasib baik. Sementara warna biru pada atap melambangkan langit yang terang dan berwarna biru. Halaman di sekitar monumen ditanami dengan bunga berwarna merah.

Secara keseluruhan, gabungan warna putih, biru dan merah merupakan simbol ekspresi semangat kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang tercermin di bendera nasional Cina.

Berfoto ria di halaman depan Chiang Kai Shek Memorial Hall. ( foto: HAS).
Berfoto ria di halaman depan Chiang Kai Shek Memorial Hall. ( foto: HAS).

Acara dilanjutkan makan siang di Chang Beef Noodles, salah satu resto halal di Taipei yang berdekatan dengan obyek yang kami tuju berikutnya. Melihat mie membuat kami semangat melahap. Sayang makan mie di Indonesia ternyata jauh lebih enak.

Huashan Creative Park.

Predikat Taipei sebagai ibukota Taiwan menjadikannya pusat politik, ekonomi sekaligus budaya. Tidaklah aneh jika disini kita bisa menemukan berbagai kemudahan dalam segala bidang. Bagi para pelancong, hal tersebut memberi mereka banyak pilihan dalam memutuskan destinasi, transportasi sekaligus akomodasi.

Meskipun mendapat predikat kota modern, Taipei bukanlah kota yang lantas melupakan budaya. Seni tradisional dan modern sama-sama berkembang pesat di sini. Nah setelah dari Chiang Kai-shek, kunjungan berikutnya adalah Huashan Creative Park yang menjadi ‘Jendela’ budaya Taiwan.

Lokasi tepatnya berada di Section 1, Bade Road, Zhongzheng District, Taipei. Saat singgah di sini kita akan serasa dibawa kembali ke masa lalu melalui bangunan-bangunan tuanya.

Pretty memberikan kami waktu sekitar satu setengah jam. Kalau bosen boleh berkeliling di sekitar yang menjadi pusat perdagangan barang elektronik seperti di Glodok, Jakarta. Sesuai namanya, Huashan Creative Park adalah pusat kebudayaan di Taipei.

Taman tersebut merupakan kombinasi dari pusat seni, pusat kuliner sekaligus bernilai sejarah tinggi. Mulanya dibangun oleh Jepang pada awal abad ke 20 dan digunakan sebagai pabrik produksi anggur. Bahkan sempat menjadi produsen anggur terbesar selama tahun 1920 an.

Perubahan statusnya bermula ketika pabrik terbengkalai setelah ditinggalkan. Gedungnya kemudian digunakan secara illegal oleh sekelompok seniman yang memanfaatkannya sebagai tempat latihan dan pentas. Pemerintah Taiwan kemudian mengakomodir kebutuhan mereka dengan memulai renovasi di tahun 1999.

Gaya para model dadakan di Huanshan Creative Park.
           Gaya para model dadakan di Huashan Creative Park.

Teriakan paculll…dari Lenny langsung membuat anggota rombongan merapat untuk selfie bersama memakai tongsis. Begitu masuk area kegiatan ‘mendadak jadi model ‘ langsung diterapkan oleh kelompok Afida dan teman-teman yang berpostur tubuh tinggi-tinggi.

Jujur saja kedatangan rombongan kami memang selalu menarik perhatian karena sambil belajar tetap sempat berfoto ria dengan gaya catwalk loh. Priyadi Abadi, komandan kami yang juga ketua Indonesia Islamic Travel Forum Communication ( IITCF) dengan ikhlas berpose mengikuti perintah Afida sang pengarah gaya.

Bekas Gudang Anggur

Memasuki bekas gudang yang sudah di sulap jadi ruang pameran lukisan dan bazar-bazar berisi pernak-pernik kreatif dari seniman Taiwan sungguh mengasyikkan. Kini Huashan Creative Park tidak hanya menjadi pusat seni, namun juga menjadi pusat interaksi bagi komunitas sekitar.

Di sekitarnya pun mulai dilengkapi dengan toko-toko, galeri dan restoran untuk menarik pengunjung. Hebatnya lagi brand lokal mendapat tempat terhormat baik dalam produk fashion maupun karya seni lainnya yang kreatif.

Saya asyik mengamati dan motret mulai dari cara display barang sampai cara menghias bagian luar gallery dengan tumbuhan merambat, boneka diatas pintu masuk sampai gaya-gaya vintage lainnya sehingga secara keseluruhan Huanshan bisa untuk lokasi film pendek, film iklan, pre wedding atau di Jakarta jadi tempat reuni karena banyak spot untuk selfie.

Tak heran kawasan yang luasnya ternyata hingga tujuh hektar ini menjadi destinasi populer bagi para warga Taipei untuk menghabiskan malam maupun liburan akhir pekan. Restoran-restoran yang ada di taman bukanlah jenis restoran franchise seperti yang banyak ditemukan di mal.

Beberapa diantaranya adalah Green Leaf Restaurant, Alleycat’s Pizza, Café Lumiere, 1914 Furnifood dan banyak lainnya. Kami sempat nongkrong nyicip minum kopi tapi rasanya kopi Indonesia terbaik rasanya.

Lokasi yang berada di perempatan jalan membuat group kami kreatif berkumpul membuat video boomerang sambil menunggu bis untuk membawa kami ke tujuan berikutnya yaitu Ximending Shopping Area.

Pengemudi lalu lintas baik mobil pribadi maupun transportasi umum hanya senyum-senyum menonton dari kejauhan. Beberapa diantaranya yang terkesima saya kirimkan senyum dan lambaian tangan sehingga mereka juga membalas dengan senyuman dan jempol.

Begitu dekatnya jarak lampu merah dengan taman tempat kami duduk membuat warga Taipei seolah membuka tangan dengan kedatangan Taiwan Moslem Educational Trip yang digagas pemerintahnya ini.

Huanshan Creative Park
                                 Huashan Creative Park

Di dalam bus Pretty mengingatkan tempat menghabiskan uang lagi yang kami tuju adalah  Ximending Shopping Area. Kami turun dari bis di depan toko brand lokal NET yang sama persis dengan nama stasiun TV di tanah air. Saya dan Dewi pilih ke toko-toko yang menjual sepatu dan tas-tas, cindramata dan produk fashion.

Di Toko tas Robin, seorang gadis bernama Fish menyapa dengan bahasa Indonesia. Meskipun hanya bisa mengucapkan kata-kata selamat siang, terima kasih dan beberapa kata lainnya tak ayal lagi saya dan Dewi langsung tergoda membeli tas.

Rupanya wisatawan Indonesia banyak yang berbelanja di tokonya karena Fish rajin menunjukkan akun Facebook tempat dia mendisplay produk. Kebetulan toko milik orangtuanya jadi dia semangat berjualan di media sosial.

Malam menjelang, tujuan berikutnya adalah Yunus Halal Restaurant dengan menu makanan Thailand yang sudah akrab dilidah karena banyaknya restoran Thai di mall Jakarta dan kota besar lainnya. Jangan heran, hampir semua menu yang terhidang ludes.

Sebelum meninggalkan Yunus Halal Restaurant, Priyadi Abadi didampingi Kyai Achmad Shofwan Lc MA menyerahkan kembali perangkat sholat sumbangan dari para anggota IITCF sebagai upaya menyediakan sarana ibadah bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke resto ini.

Rasanya sudah tidak sabar untuk Check -in di The Grand Hotel Taipei, hotel bintang lima yang bangunannya mirip istana. Dua malam terakhir kami berada di hotel itu sebelum kembali ke tanah air. Good bye…Selamat beristirahat teman..( Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

Leave a Reply