Menu

Menikmati Seruput Kopi di Satria Agrowisata, Bali

KINTAMANI, Bali, JalanJalanSeru.com : Satria Agrowisata dan Desa Panglipuran adalah dua destinasi wisata di Bali yang kami kunjungi pada hari kedua Famtrip bersama Forum Wartawan Pariwisata ( Forwapar), Kementrian Pariwisata, 5-7 September 2018.

Setelah hari pertama di isi dengan diskusi membahas pasar potensial seperti India dan China. Pagi ini dua bis berisi sekitar 40 peserta sudah tiba di tepi jalan raya Tampaksiring – Kintamani
Banjar Basangambu – Gianyar – Bali.

Sebelum datang saya sempat membaca ulasan TripAdvisor  bernada negatif dari wisatawan asing yang pernah datang soal anjuran jangan belanja di Satria Agrowisata karena harganya selangit.

Abaikan dulu saja penilaian itu karena saya turun dipekarangan atau lahan kebun dengan mata masih mengantuk namun disuguhi jalan setapak yang diapit rimbunnya pepohonan terutama kopi.

Satria Agrowisata seluas 5 hektar di Kintamani, Bali

Minuman kopi luwak dan teh sereh jadi unggulan

Hijau dedauan, udara sejuk dan penjelasan ramah dari pemandu yang menyambut membuat rasa mengantuk hilang dan jadi semangat untuk menjelajahi obyek wisata ini. Apalagi makin ke dalam banyak yang bisa ditemui terutama di kiri kanan jalan setapak seperti pohon pandan, pakis dan rempah seperti sereh, jahe  bahkan pohon nanas yang sedang berbuah.

Berinteraksi dengan alam maka optimalkan penglihatan dan pancaindra karena tiba-tiba ada beberapa kupu-kupu cantik yang melintas bahkan menyenggol tangan yang saya balas dengan ucapan hallo dan Assalamualaikum…

Soalnya setiap kali melakukan wisata alam selalu ada kupu-kupu cantik yang menghampiri saya jadi saya otomatis mengucapkan salam, siapa tahu kupu-kupu itu memang menyapa selamat datang.

Kami tiba di gubuk tempat biji kopi digoreng tanpa minyak atau di sangrai. Ibu tua yang berada di depan tungku memakai kebaya hijau sehingga dari jauh sudah eyes catching. Namanya ibu  Renga yang sudah berusia 82 tahun dan wajahnya selalu ramah menyapa pengunjung.

Kepalanya yang dibalut kain handuk tinggi untuk melindungi rambutnya dari hawa panas tungku dihadapannya justru menambah daya tarik dan eksotika wanita baya itu yang duduk dikelilingi susunan potongan kayu bakar dan tampah berisi biji-biji kopi.

Di sini pengunjung mendapatkan penjelasan bagaimana proses buah kopi yang sebelumnya kami lihat berjuntai di pohon, lalu kopi sudah dipetik menjadi tanpa kulit, dijemur hingga proses sangrai.

Nah rupanya proses sangrai harus dilakukan perlahan agar proses pematangan kopi bisa merata hingga ke dalam dan saat sangrai pemutaran harus dilakukan searah karena akan berpengaruh pada aroma dan rasa kopi itu sendiri.

Di jelaskan juga bagaimana binatang musang yang kami lewati di dalam kandang memakan biji kopi hingga menjadi kopi luwak yang terkenal dengan keunggulan rasa maupun harganya yang tinggi.

Jadi agrowisata ini memperlihatkan pada wisatawan yang datang proses hulu hingga hilir yaitu hingga produk yang sudah dikemas dan dijual langsung di area utamanya di mana mereka memiliki toko yang menjual beragam produk dari hasil kebun terutama kopi luwak.

Proses kopi tengah disangrai

Pemandu menjelaskan khasiat kopi dan minuman herbal lainnya.

Akhirnya kami duduk di meja panjang untuk menunggu sajian mencicipi beragam minuman kopi maupun minuman herbal lainnya dari rempah-rempah yang ditanam di kebun. Pemandu datang membawa baki kayu berisi 12 gelas dengan jenis minuman yang berbeda.

Jika ingin mendapatkan tambahan ilmu baru dari manfaat setiap minuman maka menyimaklah penjelasan pemandu karena jika rutin dikonsumsi dapat menjaga kesehatan tubuh maupun mengatasi beragam penyakit.

Komang Mahawira, Kabid Area India dari Kementerian Pariwisata yang duduk bersama rombongan kami mengatakan kunjungan ke Satria Agrowisata masuk kategori wisata alam yang juga diminati wisatawan India.

Saat ini Bali sebagai destinasi wisata utama di Indonesia memang banyak menawarkan pengalaman baru. Kontribusi destinasi performa budaya yang menyedot wisman masih 60 %, alam 35 % dan 5 persen untuk atraksi buatan.

Pemandu datang menbawa 12 gelas pendek yang diletakkan di meja,  maka pelajaranpun dimulai. Di hadapan kami ada kopi luwak, kopi Bali, kopi ginseng, coklat Bali, vanila kopu, teh jahe, teh Rosela, teh sereh, teh beras merah, teh jeruk dan teh Bali.

Dewa Made Juliartawan, pengelola Satria Agrowisata ini menjelaskan untuk kopi luwak, di sini ada tiga jenis yaitu luwak pandan (hitam dan abu- abu), dua lagi luwak injin (hitam), luwak ketan ( berwarna cokelat).

Tanaman kopi berada 900 meter di atas ketinggian permukaan laut dan perkebunan kopi Arabika dari Banjar Basangambu ini luasnya mencapai 5 hektar. Untuk kopi arabika terdapat dua tipe yaitu arabika betina yang memiliki karakter biji kopi yang datar dan memiliki biji kecil.

Sedangkan arabika jantan lebih tajam serta mempunyai kadar caffein lebih tinggi dan pekat serta biji kopi lebih besar. Tak itu saja, untuk kopi luwak terdapat kadar caffein lebih rendah tapi protein lebih tinggi dan bagus buat kesehatan seperti kolesterol dan kanker, jelas Dewa Made Juliartawan.

Menikmati minuman kopi di sini memiliki nuansa yang berbeda sehingga bisa menjadi pengalaman yang asyik saat berwisata. Setiap rombongan wisatawan mancanegara muncul di pondok-pondok terbuka untuk mencicipi aneka minuman, saya jadi antusias menguping pembicaraan mereka supaya tahu bahasa yang digunakan.

Ternyata hari itu banyak yang datang dari kawasan Eropa terutama dari Timur yaitu wisatawan Rusia selain juga dari Inggris. Mereka asyik berkeliling dan menikmati pemandangan yang ada.

Semangat mereka mengelilingi area ini membuat saya dan teman-teman juga mendapat spot-spot foto yang indah tinggal memilih  dari ketinggian dan sudut-sudut mana pengambilan foto yang instagramable.

Johan saat menjajal ayunan setinggi 20 meter

Johan misalnya, salah satu anggota rombongan sempat menjajal wisata adrenalin yang ada di sini berupa ayunan. Jangan menganggap ini sebatas ayunan biasa saja, pasalnya ayunan ini berada di ketinggian 20 meter, jelas Dewa Made Juliartawan.

Ayunan Satria Agrowisata ini bisa menjadi pilihan buat wisatawan, apalagi bisa merayakan 40 kali ayunan. Untuk merasakan sensasi tersebut perlu merogoh kocek seharga  Rp100 ribu bagi wisatawan nusantara sementara buat wisatawan mancanegara Rp 200 ribu.

Asyik menikmati pemandangan baru saya menyadari bahw tepat di atas pondok kopi yang kami tempati ada tulisan dengan huruf putih besar di ketinggian bukit bertuliskan Bali Cat Poo Chino. “ Itu bahasa plesetan saja untuk kopi luwak,” tambahnya.

Setiap hari  Agrowisata Satria sesak dikunjungi sedikitnya 1.000 wisatawan, paling banyak Rusia, lalu Eropa, China, India dan wisatawan lokal. Kunjungan paling ramai pada bulan Juli, Agustus dan Desember bisa mencapai 1.500 wisatawan.

Kenikmatan minum kopi di sini juga dirasakan oleh wisatawan asal Jerman, Moritz yang mengakui bahwa kopi dari Indonesia sangat enak khususnya dari sisi rasa.
“Kopi Bali itu enak dan berbeda dari rasa lainnya. Alam disini sangat indah dan sangat bagus buat dinikmati,” ungkapnya.

Pria berusia 32 tahun ini pun mengacungkan jempol buat destinasi yang masuk dalam kategori wisata alam ini. Termasuk soal kebersihan kawasan itu. “Satu hal yang harus saya akui dari tempat ini yaitu soal kebersihan. Di sini tak menemukan sampah sedikit pun. Begitu juga dengan soal sanitasinya, ” tuturnya.

Puas melewati jalan setapak dan turun naik tangga, dalam rute pulang dan menuju bis baru saya menjumpai toko yang menjual beragam produk minuman dalam bentuk bubuk, teh kering, biji kopi dan beragam minyak untuk pijat, Aroma Therapi dan bahan lainnya untuk spa.

Soal harga untuk produk minyak rempah dan spa memang tidak murah, mungkin melalui penyulingan dan lainnya.

Soal mau membeli atau tidak adalah pilihan pengunjung dan tidak ada pemaksaan tentunya. Justru ketika berjalan ke bis saya mendapatkan banyak ide-ide baru agar suatu desa yang memiliki keunggulan komoditi juga dijadikan obyek wisata seperti Satria Agrowisata.

Dengan demikian seluruh penduduk desa bisa menikmati hasil kunjungan wisman karena bukan milik perorangan tapi melalui BUMDES. Pariwisata kontan jadi penggerak ekonomi desa. Bagaimana ? good idea !.



The post Menikmati Seruput Kopi di Satria Agrowisata, Bali appeared first on Portal Berita Bisnis Wisata.

Leave a Reply