Menu

Menjelajahi Museum Bahari, Merasakan Semangat Nenek Moyang Sebagai Bangsa Pelaut

Museum Bahari, Jl Pasar Ikan, Kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara

JAKARTA, JalanJalanSeru.com: Wita Maharajo Dahlan, pemilik The Maharajo Jakarta Guest House, di kawasan Cipete Raya, Jakarta Selatan menjadi nenek yang bijak dalam mengisi liburan panjang bersama dua orang cucunya pada liburan kali ini yang masih tersisa hingga akhir pekan.

Libur Lebaran yang panjang disambung Tahun Ajaran Baru membuat anak sekolah baru masuk pada 16 Juli 2018 mendatang. Nah kali ini Wita memilih untuk mengenalkan pada cucu-cucunya bangsa kita adalah bangsa pelaut dengan berwisata ke Museum Bahari, Jakarta Utara.

Bahkan salah satu relief di Candi Borobudur, Jateng, menunjukkan adanya kapal Samudra Raksa, kapal layar bercadik ganda terbuat dari kayu yang berasal dari abad ke-8 di Nusantara yang digambarkan dalam beberapa relief di candi itu.

Kegunaan cadik adalah untuk menyeimbangkan dan memantapkan perahu. Jenis perahu besar bercadik kembar yang ditampilkan di Borobudur ini kemungkinan besar adalah jenis kapal yang sama yang digunakan oleh dinasti Sailendra dan Kemaharajaan bahari Sriwijaya yang menguasai perairan Nusantara pada kurun abad ke-7 hingga ke-13.

“Sejarah adalah guru kehidupan, dan dengan sejarah kita dapat memahami masa sekarang juga untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” ungkap Wita sambil bersenandung….

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa


Sepenggal bait lagu itu membuktikan bahwa Indonesia memang dikenal sebagai bangsa maritim selain juga wilayah lautnya  lebih luas dibandingkan wilayah daratannya.

Keberanian dan ketangguhan nenek moyang bangsa ini  mereka buktikan jauh sebelum Columbus menyeberangi Samudra Atlantik dan menemukan benua baru Amerika pada tahun 1492 atau Fasco da Gama pada tahun 1498 yang mulai menjelajahi dunia timur.

Kapal-kapal bercadik tunggal maupun ganda milik nenek moyang itu  tak hanya untuk pelayaran antar pulau di Indonesia, tetapi untuk berlayar ke India dan Madagaskar. Dalam pelayarannya ke Timur, para pedagang-pelaut Nusantara di jaman bahari bisa mencapai Hawai dan selandia Baru yang berjarak lebih dari 2.000 mil.

“Itu cerita berabad lalu , untuk anak jaman Now apakah  pernah mendengar tentang Ibnu Batuta atau Maegelhans atau Laksamana Malahayati? ,” tanya Wita.

Kalau jawabannya belum termasuk berkunjung ke Muara Angke, pelabuhan yang sangat diperhitungkan di masa lampau maka  Museum Bahari bisa menjadi tujuan selanjutnya untuk napak tilas kehebatan nenek moyang kita sebagai bangsa pelaut.

Di Museum Bahari ini pengunjung bisa  “berkenalan” dengan tokoh-tokoh tersebut dan belajar mengenai  kebaharian dan kenelayanan Indonesia. Apalagi museum ini dapat dicapai hanya dengan berkendara sekitar 10 menit dari Kawasan Kota Tua, Jakarta.

                     Laksamana Malahayati

Gedung museum yang berasal dari abad 17 ini dulunya adalah tempat penyimpanan rempah-rempah di zaman VOC.  Fasad museum hadir mencolok dalam balutan warna putih yang dominan, dan jendela-jendela kayu besar, tampak menarik, bersih dan terawat.

Melangkah masuk ke ruangan pertama, sebuah peta kuno besar kota Batavia dengan pelabuhan di latar depan menyambut pengunjung.  Ini seperti mengingatkan bahwa Jayakarta (kemudian Batavia) berkembang karena Sunda Kelapa.

Sampan-sampan dari berbagai daerah memenuhi ruang pamer,  diselang-seling dengan miniatur kapal-kapal besar, termasuk replika kapal Dewa Ruci.  Disini pengunjung dapat belajar dari informasi yang terpampang, bahwa di abad ke-16 saat masih merupakan bandar terpenting Kerajaan Pakuan Pajajaran dan Batavia telah menjadi pelabuhan internasional.

Kapal-kapal yang singgah bukan saja dari Palembang, Tanjungpura, Maluku dan Gowa tetapi juga dari Cina, India, Arab, Persia dan Ryuku (Jepang).  Bukan untuk berdagang saja, mereka juga datang untuk menyebarkan agama. Pedagang-pedagang dari Arab, Persia dan Turki selain berdagang juga membawa misi menyebarkan agama Islam.

Keluar dari ruangan ini, langkah kaki langsung memasuki ruangan yang menyuguhkan berbagai informasi mengenai pelabuhan-pelabuhan di nusantara. Termasuk di dalamnya adalah berbagai peralatan navigasi, meriam, kemudi, foto-foto dan informasi tentang pembuatan kapal.

Lagi-lagi, disana-sini pengunjung akan banyak melihat sampan-sampan tradisional dari berbagai daerah Indonesia dalam berbagai bentuk dan gaya.

Lantai dua didominasi oleh diorama.  Bisa dikatakan ini adalah bagian yang sangat menarik, menampilkan para penjelajah, pelaut  terkenal, penemu dan pahlawan yang sejarah hidupnya terkait dengan kelautan.

Di depan setiap diorama terdapat buku informasi mengenai tokoh yang ditampilkan serta sejarah atau peristiwa yang terkait dengannya.   Diorama dibuat penuh warna, dengan kostum, properti dan latar belakang lukisan yang digarap dengan baik.

Di bagian awal, diorama menampilkan para penjelajah terkemuka berdasarkan negara: penjelajah dari India, dari Arab dll.  yang pernah mengarungi perairan Indonesia termasuk singgah di Sunda Kelapa.

Suasana ruang pamer Museum Bahari

“ Ada satu diorama yang menarik, yaitu mengenai keramahan raja-raja Indonesia menyambut kedatangan para pedagang VOC.  Siapa yang menyangka bahwa kedatangan bangsa Belanda yang tadinya untuk membeli rempah-rempah itu berujung dengan penjajahan?,” ungkap Wita bersemangat.

Rempah-rempah yang menjadi gara-gara tersebut ditampilkan juga berkarung-karung dalam sebuah ruangan khusus “Spice Intercontinent”.Bagian kedua diorama menyuguhkan para navigator legendaris  seperti Marcopolo, Ibnu Batuta, Vasco de Gama, Magelhaens, dll.

Disini juga ada adegan pebisnis asal Inggris Thomas Cook yang digambarkan sedang menyaksikan suatu pertemuan dengan penjelajah dan pedagang yang terkenal   dari VOC, Abel Tasman.

Diorama juga menampilkan tokoh nusantara, yaitu Pangeran Fatahillah, tokoh yang berhasil mengusir orang-orang Portugis dan memberikan nama “Jayakarta” kepada bandar Sunda Kelapa, yang kemudian berubah menjadi “Jakarta”.  

Di ujung bagian ini, berdiri patung Laksamana Malahayati, perempuan pejuang dari Kesultanan Aceh.  Satu-satunya tokoh perempuan yang ditampilkan pada diorama.  Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid).

Mereka memiliki benteng di Teluk Lamreh Kraung Raya dan 100 kapal.  Berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda di abad 16, Malahayati membunuh  Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

Dia mendapat gelar laksamana untuk keberaniannya itu, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Kehebatan Malahayati di lautan membuat namanya dikenal di negara-negara lain. Selain Belanda, Portugis, dan Inggris yang ketakutan dibuatnya, nama Malahayati juga terdengar sampai ke negeri Tiongkok.  

Di lantai 2 terdapat juga perpustakaan yang terbuka untuk umum, gratis.  Sementara di lantai 1 terdapat sebuah ruang pameran. Bagian museum yang terbakar di awal tahun 2018 masih tertutup, belum dibangun kembali.

Berseberangan dengan ruangan-ruangan museum, melewati inner court, terdapat bangunan bekas galangan yang sekarang dipakai untuk cafe.

“Kunjungan ke Museum Bahari ini sangat saya rekomendasikan. Apalagi harga tiket untuk Dewasa: Rp. 5000; anak-anak: Rp. 2000. Buka setiap hari kecuali Senin, dari jam 8.00 hingga jam 16.00,” kata Wita Maharajo Dahlan.

Buka setiap hari kecuali Senin, dari jam 8.00 hingga jam 16.00. Sebelum beranjak dari Museum Wita melontarkan idenya untuk membentuk komunitas Sahabat Museum Bahari.

Yuk ke Museum Bahari. Temukan dan rasakan semangat nenek moyang yang tak pernah padam untuk diwariskan pada anak-cucu kita.

 

:  

 


Leave a Reply