Menu

Petra, Formasi Hebat Batu Raksasa & Kisah Petualang Muda Swiss.

 

Oleh Nur Hidayat

AMMAN, Yordania, JalanJalanSeru.com: Takjub melihat kota yang bangunannya terbuat dari batu dan berada di dinding tebing, begitulah reaksi rombongan saya ketika tiba di Petra sehingga untuk sejenak kami hanya terdiam membisu.

Meski dalam hati bertahmid, menyerukan pujian hanya untuk Allah sebagai ungkapan rasa syukur seorang muslim atas karunia Allah.

Allah yang Maha Kuasa untuk kesekian kali memperlihatkan ke-Maha Pencipta-nya. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Batu-batu raksasa, berbagai bentuk, warna, guratan dan ukuran seakan terhampar begitu saja. Namun, bagi saya, tetap saja mengherankan, mengagumkan. Masya Allah.

Ditambah bangunan dan pilar-pilar tinggi yang dipahat dari batu, oleh tangan-tangan trampil ribuan tahun lalu . Wooww sepatutnya kalau semua itu membuatnya jadi satu dari tujuh keajaiban dunia. Obyek turis yang “wajib dikunjungi walau sekali seumur hidup.”

Bisa dibilang, kota yang satu ini adalah ikon pariwisata Yordania. Petra yang mempesona, sangat sulit digambarkan dengan kata-kata saking indah dan menakjubkan kota tersebut. Pahatan dinding-dinding batunya merupakan perpaduan gaya Yunani kuno dengan Asia.

Petra termasuk dalam sebuah situs arkeologi yang juga merupakan sebuah kota yang cara pembuatannya dengan memahat dinding-dinding batu yang ada di Yordania. Nama Petra sendiri asalnya dari bahasa Yunani yang memiliki arti batu. Inilah sebagai simbol perlindungan dan tekhnik.

Perlu waktu 12 jam: 8 jam pulang pergi dari-ke Amman plus makan siang dan shalat) serta 4 jam menikmati kompleks Petra yang luas. Kalau mau puas, katanya harus tiga hari di tempat itu karena banyak yang perlu dilihat dan dinikmati.

Empat jam memang kurang, lantaran cuma sampai di al-Khazneh (the Treasury) bangunan tinggi 42 m dua lantai, berpilar kokoh, sekitar 2,5 km dari pintu gerbang. Bangunan indah itu, pernah jadi setting film  Indiana Jones dan memang paling cantik dan utuh.

Struktur paling populer bernama Al Khazneh ini disebut-sebut pada masanya merupakan bunker akan tetapi versi lain menyebutkan bangunan ini pernah dipakai untuk gudang harta.

Nah, saat mengunjungi tempat ini, pastikan juga mengunjungi kawasan utama tempat wisata ini, yang bernama The Monastery. Untuk mencapainya butuh perjuangan, karena perlu melewati setidaknya 800 langkah di jalan bebatuan yang menanjak.

Namun, begitu sampai di The Monastery ini, perjuangan akan terbayar mengingat luar biasanya monumen ini. Bahkan, monumen ini telah muncul di film Indiana Jones yang berjudul Indiana Jones and the Last Crusade.

Awalnya adalah makam raja Nabatean pada 100 SM, lantas berubah jadi tempat pemujaan. Petra (al-Bitra, Batu) merupakan kota di Wadi Araba. Ada amphi teater berkapasitas 4.000 orang. Sistem irigasinya, bersama pompa hidroliknya, konon paling modern di zamannya.

Petra, ibukota kerajaan Nabatean, didirikan pada 9 SM hingga 49 M oleh Raja Aretas IV, sebagai kota yang sukar ditembus musuh dan aman dari bencana alam. Di masa jayanya, kota itu dihuni lebih 30.000 orang yang tinggal di rumah-rumah batu. Kota pusat perdagangan tersebut berulang kali jadi rebutan penguasa berbagai negeri sehingga akhirnya melemah perannya.

Silih bergantinya peperangan yang merusak, ditambah dengan gempa bumi dan badai pasir, membuat Petra ditinggalkan. Akhirnya hilang, tertimbun ke dalam tanah selama 500 tahun. The Lost City itu akhirnya ditemukan pada 1812 oleh petualang muda Swiss, Johann Ludwig Burckhartd, lulusan dua universitas di Jerman.

“Sebuah mouseleum kosong terlihat. Suasana dan keindahan yang sengaja dibangun untuk memberikan impresi yang menggetarkan bagi pejalan yang tiba sesudah menyusuri sebuah lembah yang dalam dan temaram,” tulis Burckhardt dalam bukunya Travels in Syria and the Holy Land.

Petualang sejati itu belajar bahasa Arab, berpakaian muslim, bisa shalat agar memudahkannya bergaul dengan orang lokal. Burckhardt pula yang menemukan kuil Abu Simbel yang terkubur di Mesir.

Berkali-kali dirampok, keliling ke berbagai negeri, lalu tinggal di Mekah, naik haji, ke Madinah. Penjelajah muda itu meninggal pada 1817 di usia 33 tahun dan dimakamkan dengan nama Islam di nisannya: Syeikh Ibrahim bin Abdallah.

“Petualangan” kami hari itu tidak seperti Burckhardt karena kami langsung mengawali dari pintu gerbang, beli tiket 50 dinar (lk Rp 1 juta), lalu jalan kaki menyusuri jalan pasir batu yang masih lebar.

Batu-batu besar di kanan kiri jalan. Sesekali orang berkuda dan naik delman lewat. Decak kagum mulai muncul, melihat banyak batu besar yang beragam, yang di dalamnya berisi kuburan. Turis asing dari banyak negara sudah tak terhitung jumlahnya berfoto.

Seolah-olah tidak ada background foto yang jelek. Sukar untuk diungkap dengan kata-kata. Lebih gampang dengan serial foto dan video. Melewati gang yang menyempit, al Siq, sepanjang 1,2 km, batu-batu makin tinggi, makin besar, berwarna, nyaris bersinggungan di bagian atasnya. Benar-benar impresif: menggetarkan. Saya meraba-raba batu, benda mati itu. Ciptaan-Mu. Allahuakbar.

Dari balik batu raksasa yang menyempit, tampak sesuatu yang ditunggu-tunggu: The Treasury, bangunan megah berwarna agak pink. Itulah tujuan utama para turis segala bangsa. Ikon Jordan yang sangat dikenal di seluruh dunia.

Tiba di lapangan terbuka yang luas, fasad bangunan dua lantai berpilar enam kokoh, mirip gedung gaya Romawi Kuno, makin menonjol diapit batu raksasa di kiri kanannya dan terbayar sudah keletihan itu.

Kami beruntung sekali bisa memandangnya sepuas hati, berfoto dan mengamati pemandangan sekitar. Minum kopi sambil menerawang sungguh mengasyikkan dengan berbagai pertanyaan di kepala seperti berapa jumlah pemahat kuno hingga selesai memahatnya.? Siapa arsiteknya.?

Penulis bersandar di Batu Petra, keindahan Muscat, ibukota Oman, Muttrah Souk,  pasar souvenir dan mengabadikan momen di kota batu Petra bersama istri tercinta. ( Foto: Nur Hidayat)

City tour dengan angkot

Dari Petra kami menuju Muscat, ibukota Oman karena penerbangan pulang ke tanah air memang dari kota ini setelah melakukan wisata religi mulai dari  Mesir, Palestina, Israel, Jordan dan berakhir di Oman.

Kota Muscat sendiri bersebrangan langsung dengan Teluk Oman, sehingga terdapat pantai di kota tersebut. Wisatawan dapat menikmati pantai Al-Qorum yang memiliki pemandangan yang cukup indah.

Oman merupakan negara Kesultanan yang juga memiliki Istana untuk para Sultannya singgah. Salah satu Istananya adalah Al-Alam Palace yang merupakan Istana tempat seremonial Sultan Qaboos. Tempat ini juga dijadikan destinasi yang wajib dikunjungi oleh wisatawan untuk berfoto ria.

Tempat wisata yang paling terkenal di Muscat adalah Sultan Qaboos Grand Mosque yang merupakan salah satu masjid terbesar dan masjid utama Kesultanan Oman. Bangunan yang luas dan megah serta desain interior yang mewah merupakan highlight utama dari masjid tersebut.

Objek wisata yang juga menarik untuk dikunjungi adalah kota tua Muscat. Disana terdapat Muttrah Corniche, yaitu merupakan kawasan pinggir pantai yang biasanya terdapat di kawasan negara teluk. Wisatawan dapat menikmati angin sepoi-sepoi sambil melihat kapal bersandar. Pemandangan indah baik di siang maupun malam hari ketika banyak lampu-lampu menyala.

Bagi yang ingin membeli oleh-oleh khas Oman dapat mengunjungi pasar tradisional di Muttrah Souq, yang lokasinya bersebrangan dengan Muttrah Corniche. Di sana terdapat banyak sekali barang-barang unik khas Oman dan tentunya harga dapat ditawar.

Di Muscat kami ditawari ikut city tour untuk mengisi waktu menjelang take off nya pesawat kami ke Jakarta jam 02.30 dan membayar US$10 dollar/orang. Hari terakhir Itu menjadi city tour paling aneh yang pernah saya ikuti alias Silent City Tour, mobilnya juga sejenis angkutan kota setempat.

Soalnya tidak ada penjelasan tentang apa yang kami lihat selama perjalanan di kota tersebut. Pemandunya memang tidak ada. dan sopir hanya ngomong satu dua kata kalau ditanya. Maka, para penumpang, lebih dari 20 orang, berubah jadi guide amatir.

Ada saja yang sok menjelaskan ini-itu, padahal tidak mengerti. Tak apa. Itu memang cuma lucu-lucuan, yang membikin kami ngakak. Kayak di panggung Srimulat. “Masih untung,” kata orang Jawa, “daripada marah dan stress.”

Sesungguhnya ibukota kesultanan Oman ini menarik: bersih, jalannya mulus, tertib dan di mana-mana ditanami rumput, pohon kurma serta bunga aneka jenis dan warna. Merah, putih, orange, kuning. Indah juga menghiasi kota.

Pokoknya pemandangannya menyejukkan mata. Di bagian lain adalah barisan bukit batu gersang. Pantainya bersih dan banyak bahkan ribuan burung bermain di pantai, sejenis burung camar.

Masjid Sultan Qaboos dengan hamparan karpet buatan tangan tanpa sambungan terbesar no 2 di dunia, salah satu yang perlu dikunjungi. Luas karpetnya 4.343 m2, empat menara setinggi 45,5 m dan satu menara utama 90 m, masjid itu bisa menampung 20.000 jamaah.  Halamannya luas, dihiasi aneka macam bunga indah.

Kami di drop oleh sopir di Muttrah Souq, pasar tua yang menjual beragam suvenir, rempah-rempah, perhiasan, pakaian, parfum. Letaknya dekat pantai, pasar kecil itu banyak dikunjungi turis asing dan transaksinya tawar menawar harga.

Menyeberang jalan di depannya, kami sudah berada di bibir pantai. Agak ke tengah bersandar kapal pesiar mewah dan satu kapal layar tradisional. Burung-burung mengais makanan di bibir pantai.

Dari situ, rombongan menuju kompleks al Alam, satu dari enam istana Sultan Qaboos bin Sa’id. Istana itu tampak sederhana untuk ukuran negara kaya: fasadnya bercat biru, krem, emas. Jalan menuju ke situ luas kecoklatan dan di dekat tembok istana dipenuhi rumput hijau, pohon kurma dan macam-macam bunga.

Dari situ kami kembali ke hotel. Usai sudah jalan-jalan dengan “menyewa angkot” itu. Secepat dan sependek itu rutenya, sang sopir mengantongi fulus sekitar Rp 3 juta. Memang rezekinya. Lumayan..

*Penulis adalah wartawan senior yang Febuari tahun lalu melakukan perjalanan wisata bersama keluarga besarnya mengikuti  tour wisata religi ke Mesir, Palestina, Israel, Jordan dan berakhir dengan mengunjungi Oman. 

Leave a Reply