Menu

Tadabur Alam Di Sun Moon Lake Dan Melongok Hinoki Village, Kampung Jepang Di Taiwan

Sun Moon Lake, danau yang indah untuk berwisata dan tadabur alam memahami ciptaan Allah SWT dalam penciptaan langit dan bumi. 

NANTOU, Taiwan, JalanJalanSeru.com: Hari ke tiga di Taiwan, rombongan Taiwan Moslem Educational Trip 2016 memulai kegiatan dengan sholat subuh bersama di lobby hotel Taiyi Red Maple Resort, Nantou.

Sholat subuh berjamaah kali ini kami bisa menyulap sebagian ruang lobby hotel menjadi tempat beribadah. Kebetulan Kyai Achmad Shofwan Lc MA, pengasuh pesantren terpadu Daarul Muttaqien, Surabaya sudah bergabung dengan rombongan kami sebagai penasehat spiritual.

Selain sholat menjadi lebih khusuk,banyak doa dilantunkan serta tausiah beliau karena seorang Muslim tidak boleh mengabaikan sholat lima waktu meski sedang melakukan perjalanan wisata.

Usai sholat,  waktu yang tersisa dipagi hari justru untuk eksplore kamar hotel yang saya tempati. Keunikan kamar di Taiyi Red Maple Resort adalah bak berendam ala Jepang. Maklum ditilik dari sejarahnya, Taiwan pernah di bawah pemerintahan Jepang dari tahun 1895–1945.

Untungnya saya semalam sudah berendam. Biasanya orang Jepang baru mandi berendam pada malam hari, tepatnya sebelum tidur. Soalnya berendam air panas diyakini mereka dapat membuat tubuh rileks dan mengurangi stres setelah padatnya aktivitas sehari penuh. Dengan begitu, kualitas tidur semakin meningkat sehingga bisa bangun dengan segar keesokan harinya.

Faktanya memang demikian sehingga pagi hari tubuh menjadi lebih segar. Didalam kamar selain tersedia kimono ala Jepang juga ada meja pendek untuk ritual minum teh sehingga bersama roommate, Dewi Nurani sisa waktu kami gunakan untuk berfoto ria dengan kimono seperti di Jepang meskipun raga dan jiwa sedang berada di Taiwan.

Menuju Sun Moon Lake

Jam 9 pagi bus meninggalkan hotel menuju Sun Moon Lake. Teman-teman yang bertugas menjadi kordinator rombongan dengan anggota berjumlah 28 orang adalah Lenny, pengusaha travel agent dari Bandung, Ismanto, seorang Tour Leader dan Aulia Hakim, seorang journalist, model dan juga photografer profesional, anggota termuda dalam rombongan.

Anggota rombongan manfaatkan kebersamaan dengan berfoto
Anggota rombongan manfaatkan kebersamaan dengan berfoton

Mereka semua praktek langsung untuk mengatur rombongan dan perjalanan hingga berkordinasi dengan guide lokal bernama Pretty. Kami meninggalkan resort yang cuaca, suasana maupun bangunannya mirip- mirip resort di kawasan Cisarua, Jawa Barat.

Perjalanan masih berada di kawasan pegunungan dan dari Taiyi Red Maple Resort yang berjarak sekitar 27, 5 km bisa ditempuh dalam 35 menit. Nantou adalah sebuah daerah di Taiwan bagian tengah yang terkenal bergunung-gunung dan karena itu mempunyai pemandangan indah.

Danau Sun Moon (Danau Matahari Bulan) yang tenang dan berlatar pegunungan menjadi salah satu kawasan wisata terpopuler di Taiwan baik untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Danau terbesar di Taiwan ini terletak di Nantou County sekitar 5 Jam dari Taipei jika menggunakan bus wisata.

Nantou adalah satu-satunya daerah di Taiwan yang tidak berbatasan langsung dengan laut. Nama Nantou berasal dari suku kata asli Taiwan yaitu Hoanya Taiwan Ramtau. Ada beberapa cerita mengenai asal nama Sun Moon Lake.

Begitu tiba di lapangan parkir yang luas, kami tidak melihat adanya dermaga tetapi setelah berjalan kaki dan melewati toko suvenir barulah tampak kapal-kapal boat untuk menyebrang. Danau yang bersih dan kapal-kapal boat berjejer cantik bahkan ada yang berwarna pink membuat saya langsung ingat keindahan Danau Toba, di Sumatra Utara.

Seperti halnya di Danau Toba , maka ditepi Sun Moon Lake dikelilingi banyak hotel-hotel. Saat berada di dalam kapal terlihat di atas perbukitan ada beberapa vihara dan patung Budha yang besar. Perjalanan dari dermaga ke dermaga lainnya di seberang memakan waktu sekitar 40 menit.

Luas danau saat ini 827 hektar dengan kedalaman 30 meter, dan menjadi tujuan wisata yang paling diminati. Asal nama danau konon dibagian timur danau karena bentuknya dilihat bundar seperti matahari dan sisi barat berbentuk seperti bulan sabit.

Untuk beraktivitas di danau ini gratis tetapi jika ingin menaiki kapal boat maka cukup membayar biaya kapal saja harga sewa untuk rombongan tergantung jumlah orang tapi untuk umum sekitar NTD 80 atau sekitar Rp 35.000.

Harga yang terjangkau jika dibandingkan dengan sajian pemandangannya yang istimewa. Kunjungab ini bisa menjadi tadabur alam. Ustad yang mendampingi kami, Achmad Sofyan mengatakan banyak pelajaran dan makna yang bisa diambil saat beraktivitas di tengah alam seperti danau dan pegunungan.

Pastinya ketika berada di tepi danau kita bisa menikmati pemandangan dengan bentangan biru jernih air danau. Sibuk berfoto ria adalah hal utama yang dilakukan anggota rombongan sebelum naik ke atas kapal boat. Selfie, tongsis dan tawa lepas mengiringi keberangkatan kami dari dermaga ke Ita Thao.

Di pulau ini tinggal Suku Thao yaitu suku asli Sun Moon Lake. Di pulau inilah pengunjung bisa membeli souvenir khas Taiwan dan souvenir khas penduduk aborigin Taiwan. Kita juga bisa menikmati berbagai kuliner yang ditawarkan. Jangan khawatir banyak kuliner di pulau ini tetap bisa kita makan sebagai seorang Muslim .

Sebagian besar rombongan memilih duduk di dek belakang kapal boat tapi saya dan sekitar enam orang teman duduk dalam kapal menghindari terpaan angin. Rupanya guide Pretty langsung menghampiri nakhoda kapal yang berfungsi juga sebagai guide menjelaskan informasi obyek wisata seputar danau lalu menterjemahkan informasi itu dalam bahasa Inggris.

Di salah satu tepi danau, terdapat pemukiman suku asli Taiwan yang terkenal dengan sebutan Desa Kebudayaan Penduduk Asli Formosa. Kami melewati pulau kecil yang khusus sebagai tanah pekuburan yang dikelilingi air danau. Juga meliwati dermaga khusus untuk mereka yang ingin ke kuil.

“Danau ini letaknya diketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Kalau waktu malam terutama subuh, kabut sangat tebal sehingga kapal boat harus memperhatikan cahaya dari light house di sebuah pulau kecil di danau untuk memandu arah,” kata Pretty.

Pretty, guide lokal kami mengatakan ada tiga keunggulan mengapa orang datang ke danau itu. Pertama adalah karena menjadi tempat tinggalnya para leluhur, penduduk asli Taiwan, suku Formosa. Kedua danau berada di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut dan ketiga di danau ini juga ada light house seperti dilaut untuk memandu arah kapal melintasi danau.

img-20161111-wa0134

Tiba di seberang danau, langsung kembali berfoto ria. Apalagi jembatan terapung yang ada dihiasi jajaran pot dengan bunga Begonia berwarna pink sehingga menjadi spot foto yang cantik apalagi bagi rombongan yang didominasi kaum hawa.

Pretty hanya memberikan waktu 30 menit untuk mengeksplore obyek wisata itu. Jejeran gedung bertingkat rendah hanya sekitar 5-6 lantai dan warung kuliner tidak membuat kami tertarik untuk beranjak dari dermaga karena berfikir akan kembali menyebrang dengan kapal boat.

Puas foto-foto ternyata kami kembali lewat darat dan melewati kaki lima dan toko-toko untuk mencapai bus lalu makan siang. Penjual toko suvenir menjual patung-patung suku asli Taiwan dan jajanan kulinernya antara lain ayam puyuh panggang dengan bau harum yang menggoda

Tidak mungkin rasanya untuk menjelajahi danau ini dalam waktu 1 hari. Setidaknya dibutuhkan 2 hari ini mendatangi semua spot yang ada di seputar danau. Kebanyakan pengunjung datang menginap 1 malam untuk menikmati kendahan danau dan tersedia penginapan yang tersebar di seantero danau dengan harga yang bervariasi.

Sun Moon Lake merupakan pertemuan antara arus panas dan arus dingin dan tidak diperkenankan untuk berenang di danau ini. Dari atas kapal kita bisa melihat keberadaan beberapa kuil dan pagoda emas Ci En. Jalan agak menanjak menuju tempat parkir bus membuat nafas agak tersengal. Sebelum naik bus terlihat ada tugu batu dan tanda arah membuat Ismi dari Surabaya mengajak berfoto dulu.

Tanda arah itu menuju Kuil Xuanzang, 3, 2 km. Ada tanda arah ke Ci’En Pagoda 3,8 km, Kuil Xuanggwang 6 km dan Tanman village 5,6 km. Hal paling menarik adalah ada juga cable car namanya Sun Moon Lake Ropeway (cable car). Sayang tidak ada waktu untuk mengeksplorasinya.

Dari brosur terbaca bahwa ujung perhentian cable car yaitu di Formosan Aboriginal Cultural Village (FACV). Lagi-lagi kawasan ini juga wajib dikunjungi dan merupakan landmark dari Sun Moon Lake.

FACV merupakan tempat di mana para pengunjung dapat melihat kehidupan suku tradisional yang ada di Taiwan. Karena begitu luasnya (sekitar 62ha), FACV ini membutuhkan waktu sehari penuh untuk dapat menikmati isi di dalamnya.

Suasana kampung jepang
Suasana kampung jepang

Makan siang dan sholat dilakukan di Chiayi City, kota utama dari Chiayi County, Taiwan selatan yang dikenal sebagai jalur akses dari daerah pegunungan yang indah dari Alishan. lima menit dari restoran kami akan berkunjung ke Hinoki Village.

Dari namanya saja sudah bisa tersirat tempat ini terkait dengan peristiwa 50 tahun Jepang menduduki Taiwan yang membawa proses akulturasi budaya, kawin campur serdadu Jepang dengan wanita Taiwan sampai mereka pergi setelah usainya Perabg Dunia II.

Lima menit dari restoran kami menemukan suasana berbeda seolah tengah berada di negara Jepang. Perkampungan Jepang yang berada di kawasan Alishan tersebut ini memiliki 28 bangunan bergaya Jepang yang tampak terpelihara keasliannya.

picsart_11-13-07-06-26

Beberapa di antaranya memang diubah fungsinya menjadi ‘kedai’ budaya Jepang seperti pernak pernik souvenir, makanan, minuman serta buah-buahan. Juga terdapat mini museum seperti Kano Story House yang populer sejak film “Kano”

Deretan rumah-rumah tradisional berbahan kayu Negeri Sakura ini membuat paket wisata Muslim ke Taiwan rasa Jepang ini membuat semua anggota rombongan sibuk berfoto ria bahkan membuat video lucu-lucuan dengan aplikasi boomerang yang menjadi tontonan para pengunjung lain

Tidak tanggung-tanggung pose-pose kami mengundang turis Jepang dan Korea minta berfoto bersama. Boleh dibilang Hinoki Village itu sesaat sangat “dikuasai” wisatawan Indonesia peserta Taiwan Moslem Educational Trip 2016.

Guide Pretty bercerita rumah-rumah Jepang di Hinoki Village dibangun pada tahun 1914 dan digunakan sebagai asrama pekerja Jepang yang bekerja di kawasan hutan Alishan. Mereka juga membuat rel kereta api untuk mengangkut dan menyimpan hasil sumber daya alam Alishan seperti kayu pohon cemara.

Setelah ditinggalkan Jepang, rumah peninggalan Jepang yang berdiri di atas areal seluas 3,4 hektar ini sempat digunakan sebagai perkantoran oleh pemerintah Kota Chiayi. Barulah pada tahun 2005 pemerintah setempat menjadikan kawasan Hinoki Village sebagai kawasan wisata dan kawasan cagar budaya yang dilindungi.

Hari sudah malam ketika kami tiba di Chiayi Maison de Chine. Sebuah menu makan khusus Muslim telah disediakan oleh pihak hotel di selingi presentasi Grace, mewakili pihak jaringan hotel di Taiwan dan Itali ini.

Akhirnya acara bebas tiba dan kami menghabiskan malam di Wenhua Rad Night Market. “ Jangan cari suvenir dipasar malam Chayi, koper, tas yang banyak dicari turis di sini,” ujar Pretty sebelum kami melebur dengan ribuan pengunjung yang datang. (Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

Leave a Reply