Menu

Taman Rekreasi & Restoran Halal Andalan Taiwan Jaring Turis Indonesia

Peserta rombongan, Afida berpose di depan miniatur gereja St Basil , Moskow yang berada di Window on China Theme Park.

TAIPEI, bisniswisata.co.id: Hujan gerimis turun saat mendengar bunyi alarm jam untuk sholat subuh berjamaah. Berada di dalam kamar hotel disebuah di negara non Muslim tanpa adanya arah kiblat sama sekali tidak merepotkan karena kemanapun kita bersujud maka Allah akan menerima ibadah kita.

Keyakinan itulah yang kami pegang sehingga kordinator perjalanan hari itu yaitu Mori, Isti dan Onyai memilih sholat subuh berjamaah di lorong gang diantara kamar di lantai dua tempat kami menghamparkan sajadah untuk sholat berjamaah.

Pergi berwisata dengan travel agent umum kebutuhan untuk sholat yang hukumnya wajib ini seringkali bukan prioritas namun dalam Taiwan Moslem Educational Trip 9-16 November 2016 soal ibadah tepat waktu dan lima waktu harus benar-benar diterapkan.

Jadilah pagi itu kami sholat berjamaah di lorong gang karena pihak hotel tidak menyediakan ruangan khusus yang bisa digunakan buat sholat berjamaah.

Sholat subuh berjamaah di lorong kamar di lantai dua. ( foto: HAS).
Sholat subuh berjamaah di lorong kamar di lantai dua. ( foto: HAS).

“Teman-teman kalau kita membawa tamu menikmati paket Muslim Traveller untuk perusahaan kita sendiri harus bisa berkomunikasi dengan pihak hotel bahwa kita butuh tempat sholat. Kalau mereka menyatakan sebagai hotel yang Muslim friendly tapi tidak mau menyediakan ruangan sholat, bawa saja tamu-tamu ke hotel lain,” kata Priyadi Abadi, Ketua International Islamic Travel Community Forum ( IITCF) mengawali kegiatan edukasinya hari ini. (10/10).

Sikap tegas memang harus diperlihatkan pada pihak hotel sebagai mitra bisnis apakah kamar-kamar hotelnya ingin tetap terisi dengan tamu-tamu Muslim dari Indonesia ini. Pasalnya kedatangan rombongan merintis pengemasan paket-paket wisata halal ini akan membawa bisnis yang berkepanjangan.

Asosiasi Travel Agent Taiwan dan penerintahnya sengaja mengundang 200 travel afent dan pers dalam edutrip Muslim Traveller ini untuk menunjukkan pada 1, 6 milyar umat Muslim dunia bahwa mereka siap jadi tuan rumah yang baik.

Usai sholat subuh dan sarapan, kami berkumpul di Lobby hotel untuk meneruskan perjalanan. Sesuai Jadwal perjalanan hari ini adalah mengunjungi dua theme park ( taman rekreasi) dan menginap di sebuah resort di pegunungan.

Begitu keluar dari Hotel Taipei City Suites Nandong barulah kami menyadari bahwa lokasi hotel berdiri di simpang lima jalan dibawah jembatan layang membawa ingatan langsung ke perempatan Tomang, Jakarta. Maklum check-in semalam sudah menunjukkan pukul 11.30 dan suasana hotel sudah sepi.

Satu persatu anggota rombongan menyempatkan untuk foto-foto di luar hotel yang halamannya langsung berhadapan dengan jalan raya sehingga kehadiran kami di depan hotel dengan dress code warna merah, memperingati hari Pahlawan di tanah air dan membangun kebersamaan dan rasa persatuan cukup membuat para pengendara melirik keberadaan kami dipinggir jalan.

Hari kedua perjalanan bersama 29 anggota rombongan di Taiwan diisi dengan sharing dan berbagi pengetahuan bagi para pemilik Travel Muslim dan juga tour leader dari berbagai perusahaan.

Mori, Isti dan Onyai yang bertugas sebagai kordinator hari ini mulai berbagi tugas siapa yang melakukan pengecekan check-out hotel, memastikan peserta sudah masuk dalam bus dan menjelaskan tentang obyek wisata yang dituju.

Di dalam bus, Mori yang bertugas sebagai tour leader menjelaskan bahwa rute pertama adalah menuju Window on China Theme Park (WOC), sebuah destinasi wisata yang digemari wisatawan domestik maupun manxanegara.

“Dari Pretty, nama guide lokal yang bersama kita pagi ini, jarak pertama yang akan kita tempuh sepanjang 80 km, sekitar 1, 5 jam perjalanan atau sekitar 80 menit paling cepat,” kata Mori lalu menjelaskan sekilas kondisi geografis Taiwan yang beribukota di Taipei dengan 2,7 juta penduduknya.

Dalam perjalanan itu saya baru menyadari bahwa bus berjalan diatas jalan layang non tol yang membelah kota Taipei menuju kearah pegunungan seperti berjalan di atas tol Jagorawi mendekati Bogor dengan pemandangan di kejauhan adalah Gunung Salak.

Nah diperjalanan kali ini kalau duduk dalam bus dan kepala menengok ke kiri dan ke kanan yang terlihat adalah hijaunya pegunungan dan di daunan. Tapi begitu berdiri barulah sadar jalanan ternyata berada diatas lembah. Lalu berganti dengan gedung-gedung bertingkat dari sebuah wilayah dan disambung dengan suasana perbukitan lagi.

Tak terasa tiba-tiba sudah sampai di WOC dan bergabung dengan rombongan travel agent umum lainnya dari Indonesia di pintu masuk Window of China. Bersama kami berkumpul pula ratusan anak-anak usia Taman Kanak-kanak yang berbaris mengular.

Window on China atau dalam bahasa Mandarinnya secara harfiah berarti “negeri orang kecil”. Kalau kita berada di tempat ini barulah kita akan mengerti keunikan tempat ini.

Window on China terletak di Taoyuan, tepatnya di Longtan Township tidah jauh dari Chungli yang merupakan salah satu daerah terbesar di dalam distrik Taoyuan. Untuk mencapai tempat ini bagi backpacker bisa menggunakan kereta dari stasiun Taipei ke stasiun Chungli. Dari stasiun Chungli kita masih harus menyambung lagi ke Window on China.

Kalau menggunakan bis umum memakan waktu lebih lama sekitar satu jam atau menggunakan taksi hanya sekitar 25 menit tapi harganya lebih tinggi. Window on China sebenarnya adalah taman hiburan yang memamerkan miniatur tempat – tempat terkenal didunia sehigfa kita merasa jadi raksasa di negri liliput.

Luas lokasinya terbesar kedua di dunia, setelah Madurodam di Belanda dan miniatur-miniatur tempat-tempat ini dibagi ke dalam 4 bagian. Pertama adalah bagian Cina dan Taiwan, kedua adalah bagian Asia, ketiga adalah bagian Eropa, dan terakhir adalah bagian Amerika.

Di bagian Cina dan Taiwan kita bisa melihat beberapa miniatur bangunan-bangunan menarik di kedua negara ini. Untuk Taiwan ada miniatur dari Chiang Kai Shek Memorial Hall, Istana Presiden di Zhongzheng, Benteng Santo Domingo, SYS Memorial Hall, juga miniatur mesjid besar Taipei pun ada.

Ketika memulai petualangan di “ negri liliput” ini justru yang membuat rombongan terkesima adalah miniatur kereta cepat Taiwan, yaitu HSR lengkap dengan suasana dan pemandangan alam dusejelilingnya yabg detil termasuk terowongan

Saya langsung merajuk pada Lenny, pengusaha biro perjalanan wisata yang berjalan membawa tongkat tongsis untuk berfoto berlatar belakang kereta-kereta itu. “Ayo.. pacull.. ,” teriak Lenny yang langsung membuat kami berebut merapat untuk selfie.

Berbagai aktivitas di taman rekreasi yang Muslim Friendly.
Berbagai aktivitas di taman rekreasi yang Muslim Friendly.

Tina dan Pretty, dua guide lokal yang mendampingi kami mengira kata “Pacul” artinya seruan berfoto sehingga membuat kami tertawa geli dan sibuk menjelaskan bahwa itu hanyalah kode dan kesepakatan bersama untuk bertongsis ria.

Menjadi “raksasa” di antara bangunan-bangunan terkenal di dunia itu membuat saya bersyukur karena sebagian besar bangunan aslinya di berbagai negara sudah pernah saya kunjungi. “ Nikmat mana lagi yang aku dustakan , “ desis saya megutip Surat Arrahman.

Miniatur bangunan dibagian China dimana beberapa miniatur tempat terkenal di China dibuat sedemikian rupa sehingga cukup menarik seperti Alun-alun kota terlarang (Forbidden City) lengkap dengan lapangan Tiananmennya ada disini.

Miniatur tembok China dan Longmen Grotto yang menjadi World Heritage Site bahkan seolah-olah sesuai dengan aslinya disini. Untuk mencapai bagian berikutnya dari Window on China, kita harus menggunakan kereta kecil yang khusus digunakan untuk wisata di dalam Window On China.

Disinilah kita akan mencapai bagian miniatur Asia dan miniatur Eropa. Bagian miniatur Asia banyak didominasi oleh bangunan-bangunan di Asia Timur. Miniatur kastil Himeji, kastil Osaka, dan Seven Stories Pagoda dari Nara Jepang menghiasi tempat ini.

Ada juga kuil Bulguksa dari Korea Selatan. Tetapi tidak hanya itu saja. Ada juga Taj Mahal yang terkenal dari India, bersama dengan stupa Sanchi. Ada juga Dome of the Rock yang terkenal di Jerussalem, serta miniatur minaret Samarra di Irak.

Di seberang lainnya dari bagian miniatur Asia baru kita temui miniatur Eropa. Total ada miniatur yang berasal dari 9 negara disini, walaupun didominasi oleh salah satu negara favoritku dalam bidang budaya dan sepakbola, Italia.

Ada juga menara miring Pisa, Pantheon Roma, Katedral Chartres dari Perancis, Acropolis Yunani, Stonehenge dari Inggris, kuil Rila di Bulgaria, gereja St. Basil yang terletak tepat di lapangan merah Moskow, serta kincir angin Belanda semua ada miniaturnya disini.

Saya langsung ngiri melihat hasil foto Afida, photografer langganan Wardah Cosmetic yang juga pemilik sebuah biro perjalanan wisata. Senyum manisnya berlatar belakang gereja St Basil itu hasilnya keren banget.

Karena cuaca mendung dan gerimis yang tidak mendukung akhirnya kami tidak sempat menjelajah ke miniatur Amerika. Dari brosur Kebanyakan di bagian ini adalah miniatur-miniatur bangunan bersejarah di AS .

Bangunannya a.l gedung putih, Lincoln Memorial, Jefferson Memorial, patung liberty, dan mount Rushmore yang menampilkan pahatan wajah 4 mantan presiden AS (George Washington, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan Theodore Roosevelt).

Window on China sebenarnya tidak hanya menampilkan miniatur saja. Ada juga taman hiburan dan wahana bermain. Misalnya wahana kereta luncur air, yang dibangun dengan tema sungai Nil dan Mesir. Nah di bagian ini cukup banyak foto selfie dengan geng tereh Lenny dari Bandung.

Ada juga panggung hiburan dan wahana bermain lain, yang kebanyakan khusus untuk anak-anak. Juga banyak toko-toko mainan dan penjual es cream Turki yang memanggil-memanggil dan menggoda dengan bongkahan besar es yang diayun-ayunkannya.

Guide lokal menunjukkan kami sebuah bangunan besar semacam pujasera di tanah air. Di kaca luarnya ada pernyataan dari the Chinese Muslim Association yang menjamin masakannya semua halal.

Maklumat dari The Chinese Muslim Association di depan restoran.
Maklumat dari The Chinese Muslim Association di depan restoran.

Priyadi Abadi langsung selfie di depan maklumat itu sambil mengatakan bahwa Taiwan benar-benar serius mengundang 1,6 milyar Muslim Traveller dunia untuk datang ke negaranya. Bagaimana dengan Indonesia yang dikenal sebagai negara Muslim terbesar di dunia ?.

“Kalau di Eropa yang menyediakan masakan halal umumnya restoran Turki dan Maroko, tapi di sini masyarakat Taiwannya sendiri yang sudah menyediakan makanan halal,” tambahnya.

Taman rekreasi berikutnya hanya sekitar 15 menit perjalanan dari WOC, yaitu Taman Leofoo berada di Guansi ( Kuansi ), Taiwan bagian Utara. Ini juga sebuah Taman bermain yang tertata baik antara sebuah kebun binatang dengan 4 kawasan bermain yang ditambah dengan berbagai fasilitas seperti taman bunga dan hotel.

Taman bermain Leofoo ini dibangun pada tahun 1994 hingga sekarang merupakan tempat rekreasi yang paling menarik baik bagi tamu domestik maupun tamu dari manca negara. Jam buka taman Leofoo ini adalah setiap hari jam 09.00 pagi sampai jam 17.30 sore hari.

Kami tiba dikawasan Arabian Kingdom dan makan siang di Aladin Moslem Restoran di kawasan ini juga. Permainan komedi putar seperti di Dunia Fantasy di Ancol dan alunan musik padang pasir membuat suasana menjadi gembira. Perut yang sudah keroncongan membuat saya jalan sambil joget-joget ditonton anak-anak sekolah dan peserta yang ada.

Makan dan sholat di restoran Aladin bisa kami jalankan dengan baik. IITCF bahkan seperti biasa menyerahkan sejumlah perangkat sholat untuk pengelola restoran agar umat Muslim dari mana saja di dunia yang datang ke restoran itu dapat memanfaatkannya bersama.

Di area ini kita dapat mencoba berbagai macam permainan seperti The Ring Of Fire, Spinning Riders, Flying Horse Ride dan Sultan Adventure.

Usai makan kami menuju kawasan African Safari, adalah kawasan wisata binatang tapi lebih bagus di Taman Safari, Puncak di tanah air.

Uniknya untuk melihat binatang-binatang itu kami mengendarai kereta api terbuka sehingga begitu dekat dengan gerombolan bison, badak bercula satu dan binatang lainnya seperti kambing gunung.

Ada juga kawasan South Pacific, kawasan yang banyak menampilkan berbagai macam permainan seru seperti Drop Tower, Pagoda Revenge dan Mountain Flume Adventure.

Kawasan Wild West, adalah kawasan lama ( kuno ) yang meliputi live show, galery foto, serta beberapa permainan seperti Screaming Condor, a Vekoma Coaster, old rail dan yang terkenal di kawasan ini adalah The Big Canyon Rapid.

Hujan gerimis sepangjang hari membuat udara dingin dan rajin ke toilet. Setelah bersafari kami langsung menuju bus dan kembali melewati kota-kota kecil dan pegunungan selama 2, 5 jam hingga akhirnya menjelang magrib akhirnya tiba di Nantou Taiyi Maple Resort.

Suasananya mirip berada di hotel resort di kawasan Cisarua, Jawa Barat. Sudah terbayang kamar hotel dengan bak berendam air panas ditiap kamar. Alhamdulilah perjalanan hari ini komplit sudah.

Setelah magrib acara makan malampun siap. Berbagai hidangan yang lezat dinikmati dengan penuh rasa syukur. Namun usai makan kami belum bisa beristirahat di kamar karena pihak tuan rumah masih menggiring kami berkumpul di ruangan untuk membuat kerajinan kalung yang bisa dibawa pulang.

Ternyata acara membuat kalung bisa menyatukan peserta dalam canda-canda yang bersahutan sehingga suasana brotherhood lebih kental sebelum akhirnya berpisah untuk beristirahat.( Hilda Ansariah Sabri ).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply