Menu

Kedung Ombo, Saksi Bisu Mega Proyek dan Simbol Cinta.

Keindahan Waduk Kedung Ombo, PLTA dan irigasi untuk 70 ha sawah disekitarnya. ( Foto: Kemenpar)

BOYOLALI, JalanJalanSeru.com:  Waduk Kedung Ombo (WKO) menjadi tujuan berikutnya setelah liputan gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan atas undangan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf).

Jalan mulus beraspal menuju WKO yang berfungsi sebagai irigasi dan wanawisata ini kami lewati menggunakan kendaraan pribadi. Sebuah waduk yang merupakan bendungan raksasa di Jawa Tengah. Waduk ini memiliki luas 6.576 hektare dan berada di tiga wilayah, yakni Kabupaten Boyolali, Grobogan dan Sragen.

Entah karena hari kerja, WKO yang berada di wilayah Boyolali terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu ini terkesan sepi pengunjung padahal konon sangat potensial di bidang pariwisata. 

Pinggir Waduk Kedung Ombo berkesan kumuh dan aktivitas warga dengan perahu motor dan pemandangan keramba ikan di atas danau waduk.

Saat tiba di pinggiran waduk, mas Abri, wartawan senior yang satu rombongan berjalan lebih dulu, seperti mengenang peristiwa 35 tahun silam saat saya bahkan belum lahir. Pembangunan waduk raksasa yang berkembang jadi obyek wisata ini pada masanya memang cukup heboh.

Generasi milenial seperti saya cuma bisa browsing dan ternyata proyek ini menenggelamkan 37 Desa. Di balik keindahannya sebagai tempat wisata, pembangunan waduk itu di era Presiden Soeharto dan sebanyak 5.268 keluarga pada saat itu kehilangan tempat tinggal. 

Sedikitnya 600 warga merasa ganti rugi yang diterimanya sangat kecil. Mereka pun juga mendapat teror, intimidasi, dan kekerasan fisik akibat perlawanan terhadap proyek pembangunan waduk. Pada akhirnya, warga yang bertahan terpaksa tinggal di tengah-tengah genangan air.

Kasus Kedung Ombo adalah peristiwa penolakan penggusuran dan pemindahan lokasi permukiman oleh warga karena tanahnya akan dijadikan Waduk Kedung Ombo. Pada tahun 1985 pemerintah merencanakan untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt dan dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektare sawah disekitarnya. 

Pembangunan Waduk Kedung Ombo ini dibiayai US$ 156 juta dari Bank Dunia, US$ 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN, dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989.

Saat kami datang, kawasan pinggir waduk terkesan kumuh dan kotor . Dua nelayan sedang berada di perahu motornya yang berwarna biru dan membuat saya bersemangat membidikkan lensa ke arah mereka. 

Sejauh mata memandang ke arah waduk terlihat jejeran perahu motor dan keramba. Rupanya selain sektor pariwisata, kawasan ini juga berkembang menjadi kawasan agrobisnis.

Di sana para warga mengembangkan usaha perikanan darat dengan metode keramba. Selain itu, di tepi waduk para warga mengembangkan usaha pertanian buah-buahan dan sayur mayur. 

Dari hasil perikanan di sana, para warga membuka bisnis pemancingan dan warung makan yang menjajakan olahan makanan berbahan dasar ikan seperti ikan bakar atau ikan goreng yang mengundang selera para wisatawan.

      Ikon LOVE setinggi 6 meter, lebar 4 meter yang menjadi spot foto

Di kawasan WKO inilah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Telawa menyediakan wahana wisata hutan Kedung Cinta pada 2016 lalu. Ramai dikunjungi saat week-end untuk usai melepas penat setelah beraktifitas di hari kerja.

Hutan wisata Kedung Ombo ada sejak 1994, lokasinya di kawasan hutan petak 89 dan 90 C Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karengan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangwinong, KPH Telawa Jawa Tengah. 

Kawasan seluas 18,7 Ha Kedung Ombo kini hadir dengan simbol baru “hati raksasa” setinggi enam meter, lebar empat meter, berwarna merah menyala dengan latar belakang waduk. Gambar ini sangat menarik bagi penggemar fotografi dan instagramable.

Di taman Kedung Cinta ini sangatlah romantis dimana pengunjung bisa bersantai menyaksikan hamparan air dari ketinggian dengan panorama alam hijau yang menawan, udara sejuk pun akan mengusir rasa penat.

Bersama keluarga atau kekasih silahkan menikmati fasilitas warung makan apung, jetsky, speedboat, bebek air, naik kuda, dan playground atau sekedar naik perahu bersama penumpang lain. 

Tapi perahu ngetem dulu tunggu penumpang penuh baru bisa jalan. Nah cara ini yang mengurangi minat untuk keliling-keliling naik perahu. Selagi sudah di wanawisata, tidak afdol rasanya kalau tidak naik perahu mengelilingi waduk dengan tarif Rp 10 ribu per orang.

Untuk wisata di wilayah Kedung Cinta ini butuh stamina ya karena banyak mengandalkan jalan kaki. Dengan harga tiket masuk Rp 5 ribu pada hari Senin-Jumat atau Rp 7500 pada hari Sabtu/Minggu. 

Pengunjung bisa merasakan kuliner khas warung apung dengan menu ikan bakar maupun goreng. Di area parkir kendaraan, terdapat pedagang ikan khas WKO yang diasap dan bisa dijadikan oleh-oleh untuk dimasak di rumah, apalagi besok siangnya sudah kembali ke Jakarta. 

Sebelum melangkah pulang, jangan lupa membeli oleh-oleh karena saat pandemi begini setiap pengeluaran kita untuk masyarakat lokal akan sangat bermanfaat untuk keluarga tukang perahu, pemilik warung, penjual ikan asap dan lainnya.   

Waduk Kedung Ombo dengan ikon bentuk LOVE akhirnya memang jadi saksi bisu mega proyek pemerintah  dan simbol cinta bagi keluarga yang menjadi korban proyek karena menolak pindah maupun bagi kalangan milenial yang tengah merajut cinta, merencanakan masa depannya. Good bye My Love…

 

 

Leave a Reply