Menu

Ketika Senior Citizen Menggali Kenangan Wisata dan Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Endang Sungkowati dan keluarga di Raja Ampat, Papua ( foto: Dok. Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id; Meskipun tidak bisa naik pesawat untuk mencapai tujuan wisata yang diinginkan atau berdiri di tepi pantai yang cerah, kita masih bisa “berpetualang” untuk meningkatkan suasana hati, meningkatkan hormon bahagia yang mendukung fungsi kekebalan tubuh.

Caranya dengan mulai mengingat kenangan sederhana ketika menghabiskan waktu berlibur berdua saja dengan pasangan hidup atau dengan anak dan cucu daripada terus menerus membanjiri pikiran dengan informasi akibat wabah pandemi Covid-19 yang bisa menimbulkan ketakutan.

Luangkan waktu menikmati sensasi, kegembiraan, kesenangan dan tawa karena pengalaman-pengalaman berwisata belum hilang.  Mereka hidup di dalam diri dan tidak ada yang menghentikan untuk mengaksesnya kapanpun jika ingin menemukan saat-saat yang menyenangkan dan tenang.

Patuh mengikuti protokol kesehatan dan seruan pemerintah untuk tetap di rumah, berwisata kemudian ( Stay at home, Traveling Tomorrow ),  merupakan pilihan yang tepat apalagi bagi senior citizen berusia di atas 60 tahun yang rentan terhadap serangan wabah global ini.

Bisniswisata mengajak empat nara sumber untuk meluangkan waktu sejenak dengan membongkar kenangan liburan favorit dan tempat yang nantinya ingin mereka kunjungi. Berikut penjelasannya.

Endang Sungkowati

Ibu satu anak yang memiliki usaha toko bahan-bahan kue dan kursus membuat kue ini mengaku sekeluarga senang berwisata. Setiap kali ada kesempatan, putrinya, Mondya Purnasepta Ning Wulan akan browsing mencari ulasan obyek wisata menarik.

“Biasanya saya pilih ke tempat yang sudah direkomendasikan banyak teman seperti Raja Empat, Papua. Meski harus jalan kaki dan naik tangga asal medannya tidak terlalu berat akan saya jalani untuk mendapatkan foto pemandangan yang indah,” kata Endang 

Pemandangan alam didominasi warna hijau dedaunan dan udara yang bersih menjadi tujuan wisatanya sekaligus mengagumi semua ciptaan Allah SWT. Perjalanan wisata sekaligus untuk mengisi batin,  lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.

Lagi pula, kata Endang, bagi mereka yang biasa terjebak rutinitas, kemacetan dan polusi ibukota maka kembali ke alam adalah penyeimbang yang tepat, disamping menambah pengalaman dengan mengeksplore daerah-daerah baru.

Bersama suaminya, Sutrisno Hartowiyono, destinasi wisata yang dituju akan dibahas bersama. Biasanya Mondya jika mendengar dari temannya ada tempat bagus maka langsung dia browsing dan direkomendasikan pada orangtuanya.

“Sejauh ini antara kemauan anak dan bapaknya juga saya sendiri klop sehingga Mondya dengan mahirnya akan melakukan pemesanan tiket penerbangan, akomodasi, pesan mobil rental lewat online travel agent ( OTA),”

Dia juga tidak keberatan jika putrinya semata wayang yang sudah bekerja dan bersikap mandiri pergi berwisata dengan sahabat wanita atau cewek-cewek teman kantor untuk berwisata bersama komunitas. Hall ini mengingat  karena wisata sudah menjadi bagian gaya hidup dengan memanfaatkan tabungan sendiri.

” Rencananya tahun ini memang mau ke Inggris karena sekarang lebih religius, banyak Muslim dan makanan halal. Jadi bersama Mondya yang suka bawa mobil sendiri, kita  bisa mengeksplore banyak kota di sana,” kata Endang.

Meski  anak sudah membeli tiket murah dengan maskapai yang sudah dikenal reputasinya, namun rencana berangkat di kwartal ke tiga tahun ini tetap harus menunggu perkembangan wabah virus hilang dulu, tambahnya.

Herdjadiono 

Penggemar olahraga renang dan motor gede ini tergolong YOLD, kependekan dari “Young Old”, sebutan bagi mereka yang berusia antara 65 dan 75 tahun tapi  masih memiliki karakteristik anak muda. Kakek berusia 76 tahun yang memiliki dua anak dan 7 cucu ini kerap berwisata bersama keluarga besarnya di dalam dan luar negri.

  Herdjadiono dan keluarga saat berwisata ke Jepang dan Melbourne.     ( foto: dok.pribadi)

Bagi Herdja, panggilannya sehari-hari, seiring dengan usia maka pilihan wisatanya sekarang menghindari naik turun tangga dan jalan kaki yang terlalu jauh. istrinya  yang memiliki usaha salon Itje Her Salon di kawasan Cipete juga sudah hafal dia tidak mau naik kendaraan yang bersesakan dan terlalu lama di jalan.

” Sekarang lebih suka pergi berwisata yang tidak terlalu jauh misalnya kulineran ke Bandung dan ke tempat-tempat wisata di alam terbuka yang nyaman dan udaranya segar,” 

Di rumahnya di daerah Cilandak Tengah, banyak foto kenangan saat berwisata bersama anak, cucu, menantu baik di dalam dan luar negri. Herdja senang melihat foto-foto kompak mulai dari kostum dan gaya yang diatur sehingga sedap dipandang.

Untuk tujuan wisata biasanya peran anak dan cucu yang dominan dalam menentukan. Herdja dan Itje tinggal mengikuti kemauan mereka yang penting kompak dan dia tidak perlu diminta membawa koper sendiri terutama saat berwisata di luar negri.

” Sebenarnya liburan mendatang kami mau ke Bali dan sudah beli tiket pesawat, booking hotel, kendaraan dan lainnya tapi karena ada wabah penyakit maka perginya di tunda dulu deh,”

Magdalena Soeprapto Balcet

Saat akan melakukan perjalanan wisata  dan menyiapkan koper, Magdalena yang biasa disapa Lena nomer satu mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan pertama disamping memilih sepatu dan baju yang nyaman dipakai traveling. Dia juga menyertakan catatan nomer telpon yang bisa dihubungi  dalam keadaan darurat.

Maklum wanita yang menikah dengan pria berkebangsaan Perancis ini dua anaknya hidup di dua benua yaitu di Perancis dan di Amerika. Suaminya, Jean-Claude Balcet adalah Agricultural economist di World Bank  yang juga kerap berpergian sehingga Lena harus solo traveling untuk bergabung dengan anak dan cucunya.

Searah jarum jam, Lena ( kedua kanan) berssma anak, cucu, menantu ( foto: dok.pribadi)

” Kami tetap berwisata bersama, kumpul di Kuala Lumpur seperti yang kami lakukan belum lama ini. Kalau pilihan tempat wisata dan di suruh memilih saya lebih suka  back to nature seperti hiking atau ke daerah yang belum banyak di kunjungi orang,” 

Momen berwisata menjadi waktu yang penting bagi keluarganya untuk bonding, melepas rasa rindu karena terpisah jarak yang jauh. Oleh karena itu untuk kegiatan wisata keluarga dia memberikan keleluasan pada cucu-cucu untuk memilih tujuan wisata yang mereka inginkan.

Maklum salah satu dari 4 cucunya, Carla Wafa Kobeissi yang berusia 19 tahun suka sekali berwisata a.l sudah mengunjungi AS, Swiss, Pantai Gading, Mesir, Lebanon, Turki, UAE, Jepang, Singapura, Malaysia disamping Indonesia. 

” Carla suka berwisata di Indonesia bahkan sedang mencari tempat magang kerja 2 bulan untuk melengkapi tugas kuliahnya di universitas Sorbone, Paris. Namun belum terlaksana karena adanya pandemi virus global ini,” jelasnya.

Menyerahkan pilihan destinasi wisata pada cucu menjadi tantangan sendiri buat Lena apakah masih bisa mengikuti kecepatan langkah mereka. Maklum empat orang cucunya ini orangtuanya juga bule.

“Apabila wabah ini semua berakhir, saya utamakan terlebih dahulu kumpul ber sama keluarga dan meminta pendapat masing-masing  dari anak dan cucu-cucu apa yang mereka dapati pelajaran dari krisis ini dan hikmahnya bagi mereka,”

Meskipun tekhnologi sekarang tiap hari memungkinkannya bertemu secara virtual dengan mereka namun kesempatan kumpul bareng tidak bisa tergantikan. 

“Saya sendiri akan memberi pendapat saya buat argumentasi yang insya Allah lebih positif karena ingin anak, cucu dan mantu memahami secara spiritual apa yang Allah ingin sampaikan lewat wabah ini,” ungkap Lena.

Setelah wabah Corona hilang dimuka bumi, Lena akan meminta anak cucu untuk memilih tempat rekreasi ke tepi pantai dan camping bersama beberapa malam sehingga setelah berdiskusi panjang tentang kebesaran Tuhan mereka bisa merasakan tinggal beratap langit, mengagumi keagungan Sang Pencipta, tambahnya.

Purwanti Wiyogo

Pemandangan alam seperti sawah dan gunung sudah mampu memuaskan kegiatan wisata Purwanti Wiyogo yang biasa dipanggil Titie.” Kami memilih destinasi wisata dengan view indah, hotel nyaman dan aman serta  banyak tempat kuliner enak disekitarnya,”

Kenangan berwisata keluarga Purwanti Wiyogo bersama alm suami. ( foto: dok pribadi)

Saat anggota keluarga masih lengkap, almarhum suami meski memakai kursi roda tetap senang berwisata sehingga pilihan hotel dan obyek wisata adalah yang mudah dicapai. Tujuan wisatanya yang sering dikunjungi terutama Bali. Selain tujuan  favorit keluarga, Bali selalu ada tempat-tempat baru.

” Berwisata ke Bangka,  Belitung, Bandung, Jogya, Solo, Malang juga sering kami lakukan sehingga menjadi familiar. Keunggulannya juga setiap datang ada saja obyek wisata yang baru,” kata Titie.

Usulan datang dari anak cucu karena mereka yang mengurus transportasi,  hotel dan lainnya. Keputusan tergantung kondisi kesehatan alm suami, disamping ada kebiasaan sambil berwisata juga bersilaturahmi dengan saudara yang menyebar di berbagai daerah atau juga sekalian berziarah ke makam leluhur.

Meski pandemi global ini awalnya dari kota Wuhan, China. Titie tetap masih ingin mengunjungi obyek wisata di  Tiongkok suatu hari nanti setelah badai virus menghilang.

“Saya  masih ingin tamasya ke China menyusuri lagi Sungai Yang Tse Kiang dengan  river cruise yang tidak begitu besar sehingga sepanjang perjalanan dari pagi sampai senja disuguhi pemandangan  spectaculair, ” katanya mengenang.

Nenek usia 78 tahun yang memiliki 4 anak dan empat cucu ini juga masih punya pilihan pergi berwisata sungai, menyusuri Sungai Danube yang  dijuluki transboundary river karena melintasi tidak kurang dari 14 negara di Eropa. 

“Ingin menyusuri sungai Danube mulai dari Austria dan bisa singgah di kota-kota yang dilewatinya hingga Hongaria. Awalnya berada di Jerman di Hutan Hitam (Schwarzwald). Panjang sungai ini adalah sekitar 2.850 km,” katanya berharap.

Dia optimistis wabah pandemik global ini akan segera berlalu sehingga setelah sekian lama berdiam diri di rumah masyarakat akan membutuhkan kegiatan terutama untuk seusianya berwisata bersama komunitas. 

Leave a Reply