Menu

Kisah Para Traveler Wanita Menikmati Perjalanan Wisata Mandiri

Solo traveling disukai wanita dan lebih berani memilih destinasi wisatanya. ( foto: Booking.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Riset global terbaru dari Booking.com mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, perempuan lebih ingin mendalami budaya dan adat lokal (31%) ketika bepergian, dan ingin lebih berani dalam memilih destinasi (22%).

Survei melibatkan  22.000 responden di berbagai negara termasuk Indonesia yang dilakukan secara independen pada sampel orang dewasa yang pernah melakukan perjalanan dalam 2 bulan terakhir dan berencana untuk melakukan perjalanan dalam 12 bulan ke depan. 

Bisniswisata mencoba mengumpulkan tiga nara sumber dari para traveler sejati dari kalangan relasi di Indonesia yang senang melakukan perjalanan wisata sendiri maupun yang secara rutin berwisata bersama sahabat wanitanya ke berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Berikut pengalamannya;

Sulha Handayani

Ibu satu anak ini kini tengah berada di Sydney, Australia dan datang di awal Maret sebelum ada pengumuman mewabahnya virus corona Covid-19 baik di Indonesia maupun di Australia.

” Memang sudah rencana tinggal lama karena sekalian mau cari sekolah anak semata wayang, Fafa yang akan masuk sekolah menengah atas. Tapi ternyata kini harus diperpanjang dan stay at home,” kata praktisi Public Relations yang juga seorang senior journalist ini melalui Chat WA.

Menurut dia, mengapa wanita Indonesia seperti dia suka melakukan solo traveling, selain di Aussi tinggal di rumah kerabat, merancang perjalanan sendiri lebih nikmat apalagi secara naluri dia melihat perempuan lebih memiliki rasa ingin tahu yang besar.

“Coba kalau perjalanan kita diatur oleh travel agent, belum tentu bisa memebuhi rasa ingin tahu kita akan suatu destinasi wisata. Saya misalnya selalu tertarik dengan suasana pasar tradisional di suatu negara dan blusukan di sana,” ungkap Sulha.

Sulha juga banyak memiliki teman di negri Kangguru ini sehingga kunjungannya kali ini selain kangen-kangenan dan silaturahmi juga untuk mencari sekolah anak. Apalagi kunjungan terakhir lima tahun lalu  bersama ibunda dan anaknya.

Menurut dia, nikmatnya solo traveling karena berkunjung ke tempat yang sesuai keinginan hati saja. Kadang dia pergi bersama sahabat wanita yang juga suka merancang open trip sendiri sehingga tidak sulit menyesuaikan rute.

Biasanya untuk dalam negeri bisa traveling empat kali di luar pergi ke daerah karena penugasan kantor. Untuk tujuan luar negri tahun lalu pergi ke Ipoh Malaysia, Nepal, India, Srilanka dan Jepang.

“Sekarang akhirnya kasih-kasih info via Instagram tempat-tempat menarik yang pernah saya kunjungi. Suatu saat badai corona berlalu akan ada orang yang datang ke sana. Selain itu juga kasih info-info menarik seputar hotel atau tempat makan yang  menarik,”

Dia juga membantu memposting cara industri hotel dan resto menginfokan aktivitas  mereka menangani badai corona ini lewat sosmed yang dimiliki dan terus berkarya memberitakan hal hal positif seputar industri wisata di Indonesia terutama kegiatan Corporate Social Responsibility ( CSR).

” Saya baca salah satu hotel di Banyumas memberikan penginapan gratis untuk para tenaga medis. Saya lantas berpikir suatu saat nanti jika ke sana saya akan menginap di hotel tersebut karena peduli dengan kondisi wabah sekarang padahal yang paling terpukul ya industri wisata. Di saat susah tetap menolong orang,”

Selama ini jika melakukan solo traveling baik naik kereta atau pesawat di dalam dan luar negri begitu juga menetap di hotel semua aman-aman saja sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat. Apalagi tempat-tempat yang dikunjungi juga selalu menawarkan hal hal yang baru jadi sangat menarik. 

Industri pariwisata di dalam negri seperti pengelola hotel umumnya sudah mengerti benar bagaimana cara menservis tamu.Namun sayangnya saat berwisata di kawasan Batu Raden, Jawa Tengah ada tempar makan yang malak harga setelah selesai makan, tamu di todong dengan tagihan harga yang tidak masuk akal untuk ukuran Purwokerto karena jauh lebih mahal harganya dengan di Jakarta, ibu kota negara.

” Orang yang berwisata mau enak, santai, bahagia jadi mental malak ini yang harus dibasmi agar wisatawan dalam dan luar negri bahkan wisatawan lokalnya mau datang lagi,” pesan Sulha.

Searah jarum jam, Sulha Handayani, Lintang Rowe dan Dewi Hermayanti ( Foto: dok. pribadi)

Dewi Hermayanti

Dewi tergolong solo traveler yang anti mainstream. Dia mengunjungi tempat-tempat yang bukan dikenal sebagai tujuan wisata tapi lebih ke ‘surga tersembunyi” di kawasan Nusa Tenggara Timur dan daerah lainnya di Indonesia.

Dia setuju dengan hasil riset Booking.com itu karena yang utama jika solo traveling di luar negri adalah memilih akomodasi dan transportasi yang aman dan nyaman. Namun di dalam negri karena dia banyak tinggal dengan masyarakat desa maka rasa aman dan nyamannya tinggi sekali.

” Beda jika ketika berada di kota besar terutama ibukota provinsi, saya akan cari referensi dulu hotel yang mana dan aman buat traveler wanita. Namun jujur jika traveling di luar negri merasa lebih nyaman karena jadwal transportasi yang teratur , informasi hotel yang lengkap dan karena infrastruktur dan informasi cara mencapainya  jelas,” ungkapnya

Info mengenai transportasi, akomodasi dan obyek wisata gampang diakses dan bisa direncanakan sebelum bepergian. Sementara kalau di dalam negri nyaman meski secara infrastruktur lebih sulit tapi penduduk di daerah sangat ramah kepada traveler terutama wanita

Untuk tahun ini rencananya mengeksplorasi Banyuwangi dan Langkawi,  Malaysia tapi gagal karena situasi dan kondisi saat ini yang kebetulan jadwalnya sudah diatur bersamaan wabah pandemi merebak. Meski masih bisa menunda hingga akhir tahun semua harus disesuaikan dengan kondisi terakhir.

Dalam melakukan perjalanan Dewi Hermayanti biasanya sambil melakukan pesonnal social responsibility ( PSR) di bidang literasi karena itu dia sering mendapat kejutan selama solo traveling dengan apresiasi yang tinggi dari masyarakat yang dikunjunginya.

Dalam setahun aktivitas travelingnya bisa 5-10 kali baik ke dalam maupun luar negri. Namun dengan perkembangan situasi pandemi saat ini sebagai traveler sebaiknya mentaati peraturan pemerintah dan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

Dewi berharap para pecinta wisata tetap konsisten mempromosikan wisata dalam negeri tanpa melanggar peraturan yang ada. Karena setelah badai corona reda, industri pariwisata akan booming dengan  pesat dikarenakan masyarakat terutama yang hobby traveling pasti akan butuh refreshing setelah semua aktivitasnya terfokus dalam rumah.

Lintang Rowe

Tujuan wisata Lintang Rowe ke suatu daerah memang benar sesuai hasil riset adalah untuk mendalami budaya dan adat lokal. Baginya berwisata menambah pengetahuan atas suatu destinasi termasuk mengamati bagaimana pengelolaannya juga. 

Sebagai pengusaha media cetak yang juga suka traveling dia ingin lebih  memahami dan menambah pengetahuan terkait adat budaya, keunikan, dan kebiasaan masyarakat setempat.  “ Makin kita paham ritual dan kekayaan budayanya yang unik terutama kearifan lokal maka  rasanya baru lengkap perjalanan wisatanya,” kata Lintang.

Kehidupan dan fasilitas modern serta gaya hidup metropolitan mudah terpenuhi di ibukota negri seperti Jakarta, tapi kehidupan yang penuh rasa tanggung jawab pada alam semesta dan sang Khalik adalah milik destinasi wisata di daerah terpencil sehingga pilihan destinasi wisata bersama putri tunggal umumnya anti mainstream.

Berwisata yang mengisi batin dan bisa menjadi perbandingan dan bahan studi bagi putri tercinta biasanya menjadi pilihan dan tentu saja masalah keamanan menjadi prioritas.  Wisata di dalam negri secara psikologis lebih merasa nyaman di rumah sendiri, sementaera di luar negri saatnya studi banding juga, paparnya.

“Kwartal pertama tahun ini  sudah dijadwal mau ke Taiwan tapi tunda karena mewabahnya Covid-19 sehingga jika semua normal kembali baru bisa diwujudkan tergantung perkembangannya,”

Untuk berlibur bersama putrinya setelah badai pandemi berlalu masih tetap pada jadwal semula yaitu ke Bali dan mengulang kunjungan ke Jepang.  Kegiatan solo traveling tapi bersama anak sangat seru karena diputuskan bersama, diatur bersama dan dipilih bersama obyek yang mau dituju.

” Suami karena pekerjaan memang tidak ikut dan memberikan kesempatan ibu-anak bonding karena kalau kondisi normal kami bertiga sibuk dengan kegiatan masing-masing,” kata Lintang Rowe.

Jadi sekarang slogannya Stay at Home, Traveling Tomorrow sudah tepat. Bagi para traveler sejati selalu belajar hikmahnya suatu perjalanan termasuk mengapa wabah penyakit ini mendunia. Namun soal traveling tidak ada matinya. 

” Jadi buat rekan-rekan di industri pariwisata tetap tenang dan buat perencanaan karena ketika orang sudah sekian lama di rumah juga akan serentak berwisata. Semoga !!,” tegasnya.

 

Leave a Reply