Menu

Menikmati Keindahan Kota Mekkah di Waktu Malam dari Gua Hira

MEKKAH,Arab Saudi,JalanJalanSeru.com: Selalu menjadi mimpi bagi banyak jutaan umat Muslim lainnya di dunia untuk merasakan bulan Ramadan langsung di dua kota suci, Makkah dan Madinah dilanjutkan dengan merayakan hari kemenangan Idul Fitri.

Rindu beribadah di depan Kabah saat tempat suci umat Islam dari seluruh dunia ini masih tertutup akibat pandemi global COVID-19 tentunya membuat semua ingatan melakukan ibadah haji maupun umroh yang pernah kita lakukan akan muncul kembali dalam ingatan seperti yang kini saya rasakan.

Saat itu matahari telah rebah di ufuk bukit yang melatari Kota Mekkah, Arab Saudi. Berbarengan dengan itu terdengar azan berkumandang diiringi nyala lampu dari pucuk-pucuk menara Masjidil Haram. 

Yang menarik, kumandang azan dan nyala lampu listrik berawal dari Masjidil Haram itu melingkari Ka’bah itu. Lalu seperti pemicu terar kumandang azan dari masjid-masjid lain yang ada di Kota Mekkah. 

Bersamaan dengan itu menyala juga lampu yang dimulai dari lingkungan Masjidil Haram diikuti nyala lampu bangunan-bangunan lain di sekitarnya, menjadikan Kota Mekah terang benderang di waktu Magrib. 

Pemandangan spektakuler itu saya saksikan dari sisi ‘pintu’ bagian belakang Gua Hira di pucuk Jabal Nur (Bukit Cahaya), sekitar 7 Km di sebelah timur Kota Mekah. Saat Magrib itu, tahun 1997, saya tak sendiri, melainkan bersama 4 (empat) teman wartawan/sastrawan.

Kami bersama-sama melaksanakan ibadah Umroh, yakni: Ahmadun Yosi Herfanda (dari Harian Republika), Badri (kameraman TPI/Televisi Pendidikan Indonesia), Isson Khairul dari Majalah Gadis, Mas Danarto (almarhum) – budayawan dan penulis buku Orang Jawa Naik Haji. 

Gua Hira di pucuk Jabal Nur merupakan catatan tersendiri dalam dunia Islam, karena di gua itu suatu hari di Bulan Ramadhan pada kitaran 14 abad silam, Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, yakni QS.96 (Al-Iqra’ atau “Segumpal Darah”) ayat 1 – 5.

Namun begitu Gua Hira dan Jabal Nur tidak masuk dalam peta wisata (religi) Kota Mekkah. Bahkan pemerintah Arab Saudi melalui otoritas Kota Mekkah tegas menyebut bahwa Gua Hira di pucuk Jabal Nur sebagai bukan tempat ziarah. 

Penegasan ini tercatat di banyak buku dan brosur wisata, bahkan tertera sebagai pengumuman resmi dalam 6 bahasa (Arab, Turki, Inggris, Itali. Urdu, dan Bahasa Indonesia), yang menyatakan “Semenjak Muhammad SAW diutus menjadi Nabi, tidak ada dalil kuat yang menunjukkan Nabi Muhammad SAW menziarahi Gua Hira untuk melakukan shalat atau berdoa, dan para sahabat Nabi pun tidak melakukan hal itu”.

Uniknya, dari masa ke masa, ada saja jamaah yang datang ke Kota Mekkah, baik untuk umrah ataupun yang mendapat panggilanNya menunaikan ibadah haji, yang ingin bisa menjejakkan kaki ke Gua Hira di pucuk Jabal Nur itu.  

Rasa ingin tahu untuk kemudian menjejakkan diri di gua tempat Muhammad SAW (sebelum masa kerasulan) melakukan kontemplasi untuk membersihkan diri dan memikirkan kondisi masyarakat Kota Mekkah yang masih jahiliyah. 

Dari ‘pintu, atau rongga sebelah belakang Gua Hira ini pula kami bisa melihat ke bawah, ke arah Kota Mekkah yang bergelimang cahaya di waktu Magrib. Waktu pergantian hari dalam kalender Islam, yang mengharuskan kami segera berwudlu secara tayamum, karena tak ada air sama sekali di bukit  Jabal Nur. 

Di imami almarhum Mas Danarto, kami pun menunaikan shalat Magrib di atas batu pipih dan tempat bersih yang ada di dalam rongga Gua Hira. Subhanallah.

Bukit batu

Tahun 2017, saya kembali mendapat kesempatan datang ke Mekkah, Kali ini bersama Resti, istri saya, untuk memenuhi panggilanNya menunaikan ibadah haji tahun 1438 Hijriyah. Alhamdulillah, rangkaian ibadah haji yang terpusat di Arafah (serta Musdalifah dan Mina) usai kami laksanakan.

Pada tanggal 5 September 2017, kami kafilah Haji Mandiri Indonesia asal Pamulang, Tangerang Selatan – Banten, telah kembali ke tempat kami menginap selama di Mekkah, yakni di kawasan Syisha yang terletak sekitar 5 Km di sebelah Tenggara Masjidil Haram. 

Saya sudah ngepak koper, rapi. Tapi masih ada waktu tinggal sehari di Mekkah, sebelum esok kami diangkut bus ke Jeddah dan terbang pulang ke tanah air dengan Garuda Indonesia. Apa yang bisa dilakukan di sisa waktu? Balik ke ‘pasar tumpah’ di depan hotel buat beli oleh-oleh? Atau berkunjung ke peternakan unta, atau…?.

Alhamdulillah, rasanya…tak ada lagi situs wisata religi (dan non-religi) di seputar Mekah yang belum saya kunjungi. Saat itu tiba-tiba saja mata saya tertumbuk pada kontur sebuah bukit gersang kecokelat-cokelatan. Kontur gunung berbentuk punuk unta yang sudah amat saya kenal, dan tak lain adalah Jabal Nur.

Saya taksir, jaraknya hanya sekitar 5 Km saja dari hotel tempat kami menginap di kawasan Syisha. Mendadak saya ingat Resti yang berulangtahun ke-60 pada tanggal 1 September 2017, tepat saat kami wukuf di Arafah, tanggal 9 Dzulhijah yang sekaligus merupakan puncak tahun haji 1438 hijriyah.

Apa salahnya saya ajak Resti mendaki Jabar Nur dan instropeksi diri sejenak di Gua Hira di bagian pucuknya. Ibarat pepatah Gayung beesambut, ternyata rekan sekamar Resti yaitu  Sundari dan Mimi juga ingin ikut mendaki. Eko, teman sekamar saya, juga ingin ikut bersama istrinya.

Ada Ika,  Kang Nana dan seorang adik laki-lakinya juga bergabung sehingga alhasil, ditambah saya dan Resti, kami berdelapan siap mendaki Jabal Nur dan Gua Hira. Selain Resti dan Sundari yang memang hobi outdoor activity, keenam teman lainnya awam dengan urusan mendaki gunung.

Bahkan bila sampai di Jabal Nur maka hal ini akan jadi pengalaman pertama mendaki gunung bagi mereka. Tapi tidak soal karena yang penting mereka punya niat dan motivasi kuat untuk ‘wisata jalan kaki’ sambil mendaki gunung. Fisik mereka pun, dalam pandangan saya cukup sehat. Inshaa Allah, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun apapun alasannya, teknik dasar umum mendaki gunung perlu juga disosialisasikan. Antara lain: pendaki harus sehat dan mampu melangkah dengan baik dan benar. Ikuti prosedur. Gunakan alas kaki yang tepat, enak dan nyaman. 

Idealnya sepatu gunung dengan tumit tertutup. Tapi berdasarkan pengalaman 20 tahun lalu, Jabal Nur relatif mudah untuk didaki. Untuk itu saya dan Resti cukup menggunakan alas kaki berupa sandal Spartan, yang kini populer disebut sebagai sandal gunung. Itu pula yang dikenakan teman-teman lain.

Berdasarkan pengalaman, track to top of Jabal Nur bisa didaki dalam tempo sekitar 2 jam. Sama sekali tak ada pohonan di atas sana. Sepanjang pendakian, yang ada Cuma tebing-tebing padas, tonjolan batu andesit. Pokoknya, batu-batu melulu. 

Oleh karena itu selain membawa makanan siap kunyah, jangan pernah lupa berbekal cukup air minum, yang tiap seperempat jam sekali minimal harus kita teguk seperlunya agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Jangan lupa jas hujan, lampu senter dan tongkat.

Tongkat amat disarankan untuk dibawa dalam setiap aktivitas mendaki gunung, tak cuma bagi kalangan tua tapi juga kaum muda. Karena tongkat berguna sebagai alat pegangan tangan saat kita melangkah, terlebih mendaki di lokasi yang tak ada akar atau pepohonan untuk dipegang. 

Tongkat yang kita gemgam dan ‘menghujam’ di tanah, juga sangat berarti untuk menstabilkan posisi tegak tubuh saat melangkah turun ataupun naik. Alhamdulillah, di tas saya selalu tersedia tongkat lipat dari bahan metal geranium. Dan di bagian bawah Jabbal Nur ada banyak kios penjual tongkat dari batang kayu siwak, bagi siapa yang perlu.

Keindaha kota Mekkah dari atas gua Hira, foto bersama dan jumpa kambing gunung hingga sholat bergantian di Gua Hira

Berangkat tengah malam

Pada 20 tahun silam, saya mendaki Jabal Nur selepas sholat Asyar saat matahari sudah amat condong ke Barat. Tapi tetap saja, panasnya minta ampun! Karena itu, dalam pendakian kali ini saya menyarankan berangkat tengah malam dari hotel di Syisha, saat udara teduh. Maklum di Mekah saat itu, udara malam pun masih dalam kitaran angka 35* Celsius.

Teman-teman setuju. Keperluan dasar perjalanan yang perlu dibawa, kembali di-check.  Khususnya air minum yang cukup plus makanan kering buat bekal di jalan, wind-jacket, jas-hujan, juga kamera. Seorang teman yang hanya mengenakan sandal jepit, saya sarankan menggantinya dengan sandal Spartan, pinjam punya temannya. 

Untuk menghemat waktu dan tenaga, dari depan penginapan di Syisha kami menuju lokasi star di kaki Jabal Nur dengan menggunakan taksi. Ada dua jenis taksi yang resmi beroperasi di Mekkah saat itu, yakni taksi argometer berupa sedan sebagaimana umumnya, dan taksi berupa mobil minitruk bak terbuka berkapasitas 10-12 orang penumpang, yang bisa disewa dengan sistem sekali jalan dan antar ke tujuan, dengan tarif antara 6 – 12 RSA (Real Arab Saudi) per penumpang.

Kami berdelapan memilih taksi ‘bak terbuka’, dan dikenakan tarif 10 Real tiap orang, dengan catatan taksi (pengemudinya seorang laki-laki asal Pakistan) langsung berangkat ke tujuan tanpa harus ngetem, nunggu penumpang hingga hingga klop berisi 12 penumpang. 

Sekadar info, saat itu 1 Real setara Rp 3.400. Jadi masing-masing kami harus keluar ongkos Rp34.000, yang bila masuk ke Toko Indonesia yang banyak bertebaran di Kota Mekah (dan Madinah) bisa ditukar dengan 1kg terur ayam buat teman masak mi instan produk Indonesia yang harganya sekitar Rp6.500/pc. Sebungkus mi instan produksi Indonesia, dijual dengan harga 2 Real atau sekitar Rp 6.800.

 

Padat merayap

Tahun 1997, lokasi yang jadi tempat awal pendakian Jabal Nur dan Gua Hira masih amat sangat sepi. Jalan masuknya belum punya tanda apapun, sampai-sampai sopir taksi argometer yang mengantar kami tempo itu harus putar-putar dulu.

Saat pertama itu akhirnya tiba di satu jalan dimana di sisinya terdapat sebuah rumah yang (selain daun pintunya) seutuhnya terbuat dari gundukan batu. Atau sesungguhnya itu adalah bukit rongga batu yang diberi daun pintu. Selebihnya? Sepi. Dua jam mendaki, kami tak berpapasan dengan pendaki-pendaki lain. 

Situasi sungguh berbeda dengan kedatangan saya yang kedua kali ini bersama teman-teman satu kloter.  Tempat awal pendakian sudah berobah ramai. Rumah-rumah tembok berderet-deret, sebagian diubah menjadi toko atau warung penjual kebab, bahkan ayam goreng kriyuk-kriyuk. 

Minuman berkarbonasi produk USA juga mudah didapat di lapak-lapak warung yang menempatkan kaleng dan botol-botol minuman ringan itu dalam coolbox ataupun kulkas. Yang kangen makan mie soto ayam berbagai mie instan produk Indonesia juga ada penjualnya. 

Tak cuma kami berdelapan, tempat pendakian ini dipadati ratusan orang dari berbagai bangsa. Mereka bergerak naik (ataupun turun) secara rombongan, dengan pemimpin kelompok memegang atribut atau bendera negara masing-masing.

 Ada rombongan dari India, Pakistan, Inggris, Perancis, Ghana, Mesir, Turki, Amerika, Tiongkok bahkan rombongan-rombongan jamaah asal Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapura. Semuanya satu tujuan: mendaki Jabal Nur dan berkunjung ke Gua Hira.

Meski bukan tujuan wisata yang resmi tetap saja menjadi magnet untuk melihat langsung tempat Nabi besar beribadah. Sekali lagi, Jabal Nur dan Gua Hira khususnya memang bukan tempat ziarah, sebagaimana Jabal Uhud di Madinah ataupun lokasi ziarah lainnya di Mekah yang masuk dalam peta wisata.

Tapi siapa bisa melarang minat orang untuk melihat Gua Hira, tempat di mana ayat suci Al-Quran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SWA melalui perantara Malaikat Jibril? 

Berapa ribu pendaki memenuhi Jabal Nur saat itu? Apakah ini ada kaitannya dengan musim haji tahun 1438H yang dihadiri 2,2 juta jamaah dari luar Arab Saudi? Entahlah, Yang pasti padatnya pengunjung, rombongan yang hendak naik ataupun hendak turun, menjadikan situasi jadi padat-merayap. 

Siapapun tak bisa melangkah dengan leluasa tanpa kemungkinan ‘bersenggolan’ dengan tubuh orang lain. Sementara saya tahu persis, jalur menuju puncak, yang paling lebar hanya kitaran 2 meter. 

selebihnya jalur-jalur sempit yang bersebelahan dengan jurang di sisinya yang terbuka. Alhasil, berangkat dari bawah sekitar pukul 01 malam WAS, baru sekitar pukul 04 pagi kami tiba di pilar batu alam yang merupakan titik triangulasi, Jabal Nur

Jalan kaki ke penginapan

Di bagian tertinggi dari Jabal Nur ini situasi tak lagi padat-merayap, melainkan berjubel. Semua orang menyasar Gua Hira yang terletak di jalan agak menurun, di pinggir sebuah tebing, beberapa belas meter dari titik triangulasi. Jalan masuk ke rongga bagian dalam harus melalui celah sempit, yang memaksa tubuh seseorang harus dalam posisi miring dan agak membungkuk untuk bisa ‘nyeplos’ ke dalam ataupun balik ke luar.  

Ada semacam jendela lebar di belakang rongga, dimana di bagian bawahnya terhampar keindahan  pemandangan Kota Mekah. “Jendela” ini bisa juga dijadikan jalan masuk ataupun keluar. Tapi perlu kehati-hatian, karena harus meliwati bagian amat sempit berbatas jurang menganga.

Rongga bagian dalam Gua Hira juga tidak terlalu luas, paling hanya bisa memuat belasan orang saja. Sementara tiap orang yang berhasil masuk ke Gua Hira, umumnya cenderung untuk tinggal berlama-lama, mumpung bisa berkunjung.

Maka bisa dibayangkan padatnya kitaran seputar Gua Hira saat itu. Melihat situasi dan kondisi saat itu, saya memutuskan diri untuk tidak lanjut masuk ke Gua Hira. Resti juga setuju mendaki hanya sampai titik triangulasi itu saja, dan tidak menjejakkan kaki ke Gua Hira. Tapi teman-teman lain berfikir lain. “Gua Hira sudah di depan mata… sayang betul kalo nggak sampai dijajaki,” kata seorang teman.

Silakan saja. Saya tak bisa melarang, asal tetap berhati-hati. Keenam teman pun bergerak ke bagian celah yang agak menurun, menuju Gua Hira yang penuh sesak. Sementara saya dan Resti menunggu di titik triangulasi Jabbal Nur. Ada bagian yang agak datar di titik itu yang juga sudah penuh diduduki orang. 

Alhamdulillah, seorang laki-laki tinggi besar (sepertinya orang Turki) berdiri, dan (dalam Bahasa Inggris) menyilakan Resti untuk duduk di tempat yang tadinya ia duduki. Tempat kosong yang nyatanya tak cuma bisa diduduki Resti, tapi juga muat untuk saya ikut mendudukinya. 

Di situ saya dan Resti menunggu teman-teman yang sedang berjuang menerobos masuk ke Gua Hira, sembari menikmati wajah Kota Mekah bergelimang cahaya listrik yang bergelimang di bagian bawah. Subhanallah.

Kejutan terjadi. Semua teman ternyata…berhasil masuk ke Gua Hira dengan berbagai cara. Bahkan ada yang mengaku masuk hingga dua kali. Mereka datang satu persatu dengan wajah berseri. Sempat saya tawarkan ke Resti kalau-kalau ia ingin juga mencoba masuk Gua Hira. Tapi Resti menggeleng pasti.

Ia bilang, cukup sampai di titik ketinggian ini saja. Alhamdulillah. Dan lagi, sudah waktunya shalat Subuh. Orang-orang sudah tampak tayamum, dan shalat sendiri-sendiri karena situasi di lokasi tak memungkinkan menggelar shalat berjamaah. Ada yang menggelar selendang sebagai pengganti sajadah, ada yang shalat sembari duduk atau berdiri. 

Di bagian yang agak terbuka di ‘pilar’ triangulasi, saya dan Resti shalat bergantian. Khusyu, dan jelas menghadap Kiblat yang ditandai oleh keberadaan puncak Menara ZamZam yang terang-benderang di bagian bawah.

Lepas Subuh, perlahan kami bergerak rutun tapak demi tapak. Gelombang orang yang hendak naik rasanya semakin banyak. Tapi karena matahari sudah terbit dan tanah menjadi terang, jalan ke bawah terasa lebih gampang. 

Satu hal yang juga kini tampak, ternyata ada banyak kambing di Jabal Nur. Khabarnya merupakan peliharaan warga yang sengaja digembalakan di kawasan itu. Anehnya, itu kambing makan apa? Tak tampak kehijauan di sekujur Jabal Nur. Tapi begitulah Allah SWT punya kuasa. Siapapun makhluk, ada bagian resekinya masing-masing,

Sekitar pukul 07 pagi kami tiba di bagian bawah. Banyak taksi menawarkan diri untuk mengantar kami pulang ke penginapan di Syisha. Tapi kami semua sepakat untuk jalan kaki saja. Alasannya? “Sayang 10 Real. Daripada buat patungan naik taksi bak terbuka, mending dibeliin telor ayam sekilo,” kata satu teman.

Jalan pulang memang terasa lebih dekat, apalagi bila dilakukan dengan rilaks sambil melihat-lihat suasana Kota Mekah yang kian wah. Satu lokasi yang paling ingin disasar teman-teman pagi itu adalah: mampir ke restoran ayam goreng plus minum-minuman ringan berkarbonasi ala waralaba asal Amerika Serikat, yang mulai ramai didirikan di Kota Mekah dan kota-kota besar lain di Arab Saudi. 

Banyak gunung sudah saya daki. Tapi pengalaman mendaki Gua Hira di pucuk Jabal Nur sungguh membekas di hati. Apalagi bila ingat kalimat bijak bahwa cuma orang-orang yang mendapat hidayahNYa saja yang bisa datang (untuk umroh atau haji) ke Mekah. Dan kami memenuhi pangggilannya datang ke Mekkah, yang usai ibadah kami sempatkan diri untuk berkunjung ke Jabal Nur dan Gua Hira. Alhamdulilah terima kasih Ya Rabb…

 

Leave a Reply