Menu

Protokol Kesehatan Jadi Andalan, Desa Wisata Cibuntu Siap Sambut Wisatawan Kembali

Ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Johan Sompotan, menerima penyambutan di Desa Eisata Cibuntu, Kuningan, Jabar. ( Foto-foto: Arum Suci Sekarwangi).

KUNINGAN, Jabar,  JalanJalanSeru.com: Hari kedua kegiatan ‘Press Tour & Seminar Series: Bandung, Kuningan & Cirebon‘ membawa para anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf)  berkunjung ke Desa Wisata Cibuntu, Kuningan yang merupakan salah satu Desa Wisata berbasis komunitas terbaik di Indonesia.

Kabupaten Kuningan memiliki beberapa tempat wisata alam menarik yang patut dikunjungi. Kesejukannya mungkin membuat orang betah untuk berlibur di sana. Salah satu tempat wisata yang bisa dikunjungi selama berlibur di Kuningan adalah Desa Wisata Cibuntu di Kecamatan Pasawahan.

Di desa wisata tersebut, masyarakat setempat menawarkan keindahan alam yang masih asri. Wisatawan yang berkunjung bisa mempelajari kebudayaan setempat. Sembari berinteraksi dengan masyarakat setempat, wisatawan bisa menikmati hamparan rerumputan hijau yang membentang di bawah kaki Gunung Ciremai.

Ciri khas sebuah Desa Wisata adalah mampu menerapkan Sapta Pesona. Saya jadi ingat logonya yang dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur Kemanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan. 

Program ini disiapkan sebelum RI menggelar VISIT INDONESIA YEAR 1991 dengan tujuan  untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi tuan rumah yang baik.

Sapta Pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di Negara kita. Sapta Pesona kini oleh Kemenparekraf ditransformasi menjadi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Menyesuaikan dengan era pandemi global dimana setiap langkah pemerintah menjadi sorotan dunia maka Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan yang menjadi inti CHSE juga sama dengan tujuan Sapta Pesona.

Benar saja, kedatangan rombongan yang kali ini berseragam hijau terang menyesuaikan dengan warna alam pedesaan langsung disambut dengan tarian selamat datang. Ketua Forwaparekraf Johan Sompotan bak pejabat negara dilindungi dari terik matahari dengan payung besar. 

Sementara anggota rombongan dibelakangnya sudah ambyar sebagian menepi takut sorotan matahari. Anak-anak dari Sanggar Desa Cibuntu bergantian menari, main angklung dan terakhir menarikan tetenong besar, alat masak di kepala.

Keramah tamahan warga desa langsung terasa dengan sambutan serta minuman sereh dan umbi-umbian sebagai snack ucapan Selamat Datang. Untuk mencapai desa di kaki Gunung Ciremai ini memang lumayan terasa jauh tapi mata dimanjakan dengan hamparan sawah hijau.

Tarian Selamat Datang, tari Tetenong dan Musik angklung wujud keramah tamahan warga Desa Wisata Cibuntu

Desa Wisata Cibuntu lokasinya dekat dengan hutan pinus yang merupakan kawasan hutan dari Gunung Ciremai. Untuk menuju lokasi ini, dari Cirebon, maka rute yang dilalui adalah melalui Cirebon – Sumber (Plangon) – Mandirancan – Paniis – Cibuntu yang berjarak sekitar 30 km.

Kuningan dikenal luas sebagai surganya wisata alam di provinsi Jawa Barat. Sehingga bisa dibilang Kuningan merupakan salah satu destinasi wisata terbaik dan paling aman dari resiko penyebaran Covid-19. 

Momentum adaptasi kebiasaan baru ini pun seakan menjadi kesempatan terbaik bagi Kabupaten Kuningan untuk semakin mempromosikan diri menjadi salah satu destinasi wisata terbaik bagi para wisatawan domestik. 

 

Soot wisata di Desa Wisata Cibuntu dan homestay yang tersedia

Desa Wisata Cibuntu kini telah memiliki homestay dan camping site sehingga sangat cocok dijadikan sebagai destinasi wisata keluarga atau korporasi   ( outbound camp)

Dijelaskan oleh Kepala Desa Wisata Cibuntu, H. Awam bahwa kawasan ini sangat dijaga baik kelestarian dan tetap dikelola oleh pihak lokal, yaitu masyarakat setempat secara tradisional meski saat ini kita hidup di era digital.

“Kami cukup bangga menjadi bagian dari Desa Wisata Cibuntu yang memiliki daya tarik bukan karena hiasan saja yang mempercantiknya, akan tetapi pembinaan berkesinambungan dan komitmen komunitas masyarakatnya,” kata Pak Kades, H. Awam.

Dalam menjaga keberadaan Desa Wisata Cibuntu yang jadi kekuatan utama. Masyarakat Desa Wisata Cibuntu pun selalu menjaga Sapta Pesona sebagai acuan mengelola keberlangsungan Desa Wisata ini, terangnya.

Sementara dalam sambutannya, Johan Sompotan selaku Ketua Forwaparekraf melayangkan pujian terhadap Desa Wisata Cibuntu yang pernah menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia maupun Asia Tenggara.

“Kami terpesona dengan sambutan hangat Desa Wisata Cibuntu. Kenapa kami pilih Desa Wisata Cibuntu, karena Desa Wisata ini telah menerapkan protokol kesehatan yang baik,” kata Johan Sompotan.

Kondisinya yang merupakan kawasan wisata luar ruang sehingga punya resiko penyebaran Covid-19 yang rendah dan tentunya telah siap menerima kehadiran wisatawan dari berbagai tempat karena sudah terjamin kualitasnya yang telah diakui di Indonesia maupun Asia Tenggara,” jelasnya.

Atraksi wisata di sini cukup beragam dan yang bisa dilakukan di antaranya adalah berenang dan berkemah. Ada juga Air Terjun Gongseng yang bisa dikunjungi serta situs-situs peninggalan pra sejarah seperti batu Megalatikum.

Jika ingin coba meminum air alami yang segar, maka bisa langsung menuju mata air Kahuripan. Banyak yang datang dan langsung membuktikan minum langsung air dingin pegunungan dan hasilnya malah lebih bugar.

Jika menjelajah lebih jauh, wisatawan bisa melihat sebuah tebing yang letaknya tidak jauh dari Air Terjun Gongseng. Di dekat tebing terdapat sebuah gazebo yang telah dibangun oleh masyarakat setempat. Wisatawan bisa bersantai sejenak di sana sebelum lanjut menjelajahi Desa Wisata Cibuntu. Nah bagaimana ?  cuss…meluncur saja ke sini……

 

Leave a Reply